Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Patofisiologi Grover Disease annisa-meidina 2026-03-06T14:10:48+07:00 2026-03-06T14:10:48+07:00
Grover Disease
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Patofisiologi Grover Disease

Oleh :
dr. Siti Solichatul Makkiyyah
Share To Social Media:

Patofisiologi Grover disease (GD) masih belum diketahui sepenuhnya, tetapi beberapa faktor diketahui memicu eksaserbasi, seperti paparan sinar matahari, radiasi ultraviolet maupun ionisasi, panas berlebih, aktivitas fisik, keringat berlebihan, demam, serta udara dingin dan kering.[2]

Karakteristik utama Grover disease adalah kombinasi antara gangguan diferensiasi keratinosit (diskeratosis) dan kerusakan adhesi antarsel epidermis (akantolisis). Akantolisis merupakan hilangnya ikatan antarsel epidermis, terutama pada struktur desmosom, yang menyebabkan terlepasnya sel-sel epidermis satu sama lain dan membentuk lesi khas berbentuk bula intraepidermal.[6]

Pada kulit normal, ruang interseluler desmosom mengandung glikoprotein desmoglein dan desmocollin, yang bersama dengan protein sitoplasmik seperti plakoglobin dan plakophilin, berperan dalam mempertahankan adhesi antar sel epidermis. Berdasarkan pemeriksaan menggunakan mikroskop elektron transmisi, tonofibril pada Grover disease tampak kurang berkembang, dengan kerusakan yang diduga bermula di area yang berdekatan dengan tempat perlekatan desmosom.[4]

Gangguan Kelenjar Keringat

Salah satu hipotesis menyatakan bahwa oklusi atau kerusakan duktus ekrin intraepidermal dapat menyebabkan kebocoran molekul ke dalam epidermis sehingga memicu terjadinya akantolisis. Namun, hingga kini belum ditemukan bukti adanya kebocoran molekul keringat secara histologis maupun imunohistokimia yang menunjukkan hubungan antara area akantolisis dan aparatus ekrin.[2,4]

Kelainan Imunologis

Beberapa laporan menemukan adanya autoantibodi IgA dan IgG terhadap desmoglein pada sebagian pasien, namun belum diketahui apakah autoantibodi merupakan penyebab utama atau konsekuensi dari penyakit. Studi retrospektif menunjukkan adanya hubungan antara Grover disease dengan dermatitis asteatotik, dermatitis atopik, dan dermatitis kontak alergi. Iritasi serta inflamasi pada dermatitis diduga memicu munculnya Grover disease.[2]

Selain itu, laporan munculnya Grover disease setelah terapi dengan immune checkpoint inhibitor dan tingginya kadar IL-4 serum pada pasien menguatkan hipotesis inflamasi tipe 2, khususnya jalur IL4/IL-13, pada patogenesis Grover disease. Inflamasi tipe 2 yang meningkat seiring penuaan sistem imun juga dapat menjelaskan tingginya insidensi Grover disease pada usia lanjut.[4]

Induksi Obat

Patogenesis Grover disease terinduksi obat atau drug-induced Grover disease (DIGD) menunjukkan keterlibatan interleukin-4 (IL-4). Hal ini diperkuat dengan kejadian DIGD pada pasien dengan karsinoma sel renal metastatik yang diterapi dengan IL-4 rekombinan dan ipilimumab, serta perbaikan Grover disease dengan terapi antagonis reseptor IL-4α (duplilumab).[7]

DIGD juga dikaitkan dengan penggunaan obat-obatan yang menargetkan jalur sinyal tertentu, seperti jalur epidermal growth factor receptor (EGFR) yang berperan penting dalam fungsi dan perkembangan keratinosit, kelenjar keringat, serta epitel folikel rambut. Obat golongan inhibitor EGFR, seperti cetuximab, dilaporkan mengakibatkan DIGD.[7]

Obat-obatan yang menargetkan bentuk mutasi dari protein jalur mitogen-activated protein kinase (MAPK), khususnya serine/threonine-protein kinase B-raf (BRAF), juga telah dikaitkan dengan DIGD. BRAF sendiri masih terlibat dalam sinyal EGFR, yang menjelaskan terjadinya DIGD pada terapi inhibitor BRAF, seperti dabrafenib dan vemurafenib, dalam induksi Grover disease.[6,7]

Selain itu, statin, yang bekerja menghambat enzim 3-hydroxy-3-methylglutaryl-coenzyme A (HMG-CoA) reductase, diketahui menyebabkan xerosis. Xerosis akibat statin diduga terjadi melalui gangguan produksi dan distribusi lipid di stratum korneum. Grover disease yang diinduksi statin bergantung pada intensitas atau dosis statin.[7]

Beberapa obat lain, seperti etoposide, cytarabine, idarubicin, dan 2-chlorodeoxyadenosine, juga dapat menyebabkan DIGD, kemungkinan melalui efek sitotoksik langsung pada kelenjar keringat. D-penicillamine dilaporkan menyebabkan DIGD dengan mekanisme gangguan langsung pada desmosom oleh gugus sulfihidril penicillamine. DIGD akibat paparan merkuri juga diduga terjadi melalui mekanisme kerusakan desmosom.[7]

Keganasan

Keganasan dilaporkan menyertai sekitar 26% kasus Grover disease, dengan onset yang terjadi bersamaan dengan atau setelah diagnosis keganasan ditegakkan. Beberapa penelitian menyatakan bahwa Grover disease mungkin merupakan manifestasi paraneoplastik, yang berkaitan dengan keganasan solid maupun hematologi, di mana perubahan status imun akibat penyakit dasar berperan dalam patogenesis Grover disease.[2]

Pendapat lain menyatakan bahwa Grover disease mungkin merupakan suatu konsekuensi dari penggunaan antineoplastik, imobilisasi berkepanjangan, atau imunosupresi kronis.[2]

Mutasi Genetik

Studi genetik menemukan bahwa 80% sampel jaringan Grover disease memiliki mutasi somatik pada gen ATP2A2, yang kemungkinan dipicu oleh mutagenesis akibat sinar UV. Gen ini mengkode pompa SERCA2 yang berperan penting dalam homeostasis kalsium intraseluler.[4,8]

Kelainan pada gen ini mengakibatkan terjadinya akantolisis dan apoptosis yang sebagian besar disebabkan oleh gangguan sintesis, transport, dan pelipatan protein desmosomal, serta ekspresi sitokeratin yang abnormal.[4]

Kerusakan Sawar Kulit

Akantolisis pada Grover disease diduga terjadi akibat gangguan integritas epidermis. Banyaknya faktor pemicu pada kasus GD diduga menjelaskan bahwa kerusakan sawar kulit menjadi faktor utama munculnya Grover disease. Terutama pada kulit yang kering, area dengan jumlah kelenjar keringat yang sedikit, atau lokasi yang sering mengalami oklusi maupun gesekan. Peningkatan insidensi Grover disease pada musim dingin diduga berkaitan dengan kondisi kulit yang cenderung lebih kering.[2,4]

Referensi

2. Bellinato F., Maurelli M., Gisondi P., Girolomoni G. Clinical features and treatments of transient acantholytic dermatosis (Grover’s disease): a systematic review. JDDG - Journal of the German Society of Dermatology. Wiley-VCH Verlag; 2020. pp. 826–833.
4. Nedelcu R., Dobre A., Turcu G., Andrei R., Balasescu E., Pantelimon F., et al. Grover’s Disease Association with Cutaneous Keratinocyte Cancers: More than a Coincidence? International Journal of Molecular Sciences. Multidisciplinary Digital Publishing Institute (MDPI); 2024.
6. Simpson CL., Tiwaa A., Zaver SA., Johnson CJ., Chu EY., Harms PW., et al. ERK hyperactivation in epidermal keratinocytes impairs intercellular adhesion and drives Grover disease pathology. 2024; DOI:10.1172/jci
7. Awe O., Pavlidakey P., Kole L., Kissel R. Drug-induced Grover’s disease: a case report and review of the literature. International Journal of Dermatology. John Wiley and Sons Inc; 2022; 61(5): 591–594. DOI:10.1111/ijd.15803
8. Seli D., Ellis KT., Goldust M., Shah K., Hu R., Zhou J., et al. Association of Somatic ATP2A2 Damaging Variants with Grover Disease. JAMA Dermatology. American Medical Association; 2023; 159(7): 745–749. DOI:10.1001/jamadermatol.2023.1139

Pendahuluan Grover Disease
Etiologi Grover Disease

Artikel Terkait

  • 5 Lesi Kulit pada Neonatus
    5 Lesi Kulit pada Neonatus
Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 23 Mei 2025, 13:39
Apa diagnosis gatal kulit pada anak yang tepat?
Oleh: Anonymous
6 Balasan
Alo Dokter. Selamat siang dok, terdapat pasien usia 5 tahun keluhan gatal dan pada kulit sejak 2 minggu. Pasien sering makan sosis. Gatal bertambah saat...
dr.Simon Andri Sihombing
Dibalas 03 April 2025, 16:50
Apakah ada tatalaksana lain untuk miliaria crystalina yang hilang timbul selama 3 bulan selain antihistamin, dexa, dan krim antibiotik?
Oleh: dr.Simon Andri Sihombing
6 Balasan
Alo dokter, saya ada pasien anak laki-laki usia 6 tahun dengan diagnosa miliaria crystallina di bagian dada kanan dan lutut kanan sudah 3 bulan hilang...
dr.Risa
Dibalas 16 Juli 2024, 07:23
Bercak putih seluruh wajah pada pasien 70 tahun
Oleh: dr.Risa
2 Balasan
Alo dokter. Izin berdikusi pasien saya wanita usia 70 th muncul bercak putih di wajahnya. Pasien mengatakan keluhan ini timbul sudah lama (tidak mengingat...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.