Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Penatalaksanaan Toxic Nodular Goiter annisa-meidina 2026-03-13T10:52:29+07:00 2026-03-13T10:52:29+07:00
Toxic Nodular Goiter
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Penatalaksanaan Toxic Nodular Goiter

Oleh :
dr.Nailla Fariq Alfiani
Share To Social Media:

Penatalaksanaan toxic nodular goiter (TNG) atau Plummer disease bertujuan mengendalikan hipertiroidisme dan mencegah komplikasi sistemik. Terapi awal difokuskan pada stabilisasi klinis melalui pengendalian gejala adrenergik dan kardiovaskular.

Modalitas terapi definitif utama meliputi radioiodine atau pembedahan untuk mengeliminasi jaringan tiroid autonom sebagai sumber hipersekresi hormon. Setelah terapi definitif, pasien memerlukan pemantauan jangka panjang untuk menilai fungsi tiroid, mendeteksi komplikasi pascaterapi.[1,7,15,29]

Berobat Jalan

Pada toxic nodular goiter, pasien umumnya pertama kali datang ke fasilitas kesehatan tingkat pertama dengan gejala hipertiroidisme seperti palpitasi, tremor, intoleransi panas, penurunan berat badan, atau keluhan lokal akibat pembesaran tiroid. Peran dokter keluarga adalah melakukan identifikasi klinis hipertiroidisme, menilai stabilitas hemodinamik, serta mendeteksi tanda komplikasi kardiovaskular.

Pada fase ini, terapi bersifat simptomatik dan suportif, sambil mempersiapkan rujukan ke fasilitas lanjutan untuk konfirmasi diagnosis dan terapi definitif.[1,7,11,15,16]

Persiapan Rujukan

Persiapan rujukan bertujuan mencapai stabilitas klinis dan mencegah perburukan tirotoksikosis selama proses rujukan. Pasien diberikan edukasi penyakit, pemantauan tanda vital, serta pengendalian gejala adrenergik.

Pemeriksaan penunjang awal (TSH dan hormon tiroid bila tersedia) dapat dilakukan untuk memperkuat indikasi rujukan. Pada pasien dengan gejala sedang–berat atau komorbid, terapi farmakologis awal dapat diberikan sebagai terapi pendahuluan sebelum terapi definitif di fasilitas rujukan.[1,7,11]

Medikamentosa

Terapi medikamentosa pada toxic nodular goiter merupakan terapi pendahuluan dan bukan terapi kuratif, yang diberikan untuk mencapai stabilitas klinis dan biokimia sebelum terapi definitif. Terapi pendahuluan yang dapat diberikan meliputi:

  • Golongan β-blocker, seperti propranolol dengan dosis 10–40 mg per oral sebanyak 3–4 kali sehari, disesuaikan dengan respons klinis dan toleransi pasien, untuk mengendalikan manifestasi kardiovaskular dan adrenergik akibat kelebihan hormon tiroid.
  • Obat antitiroid, terutama methimazole, dengan dosis awal 10–30 mg/hari untuk menekan sintesis hormon tiroid secara sementara, khususnya pada pasien usia lanjut, pasien dengan komorbid, atau sebagai persiapan menuju terapi radioiodine maupun pembedahan.

Perlu diingat bahwa pemberian obat antitiroid tidak bertujuan mencapai remisi jangka panjang karena nodul pada toxic nodular goiter bersifat autonom dan tidak bergantung pada regulasi thyroid-stimulating hormone (TSH).[1,7,11,15,16]

Terapi Radioiodine

Terapi radioiodine (I-131) merupakan terapi definitif lini utama pada toxic nodular goiter atau TNG. Radioiodine terakumulasi selektif pada nodul tiroid autonom yang hiperfungsi dan menyebabkan destruksi jaringan tiroid patologis, sehingga menurunkan produksi hormon tiroid secara bertahap.

Modalitas ini sangat sesuai pada pasien usia lanjut, pasien dengan komorbid kardiovaskular, serta kasus tanpa kecurigaan keganasan. Sebelum terapi radioiodine, pasien diberikan terapi pendahuluan berupa β-blocker dan, bila diperlukan, obat antitiroid untuk mencapai stabilitas klinis dan biokimia serta mengurangi risiko eksaserbasi tirotoksikosis pascaterapi.[1,11,15,29,30].

Pembedahan

Tiroidektomi merupakan terapi definitif alternatif pada toxic nodular goiter, terutama pada nodul besar dengan gejala kompresi, kecurigaan keganasan, kegagalan atau kontraindikasi radioiodine, serta pada pasien yang membutuhkan resolusi cepat hipertiroidisme. Sebelum pembedahan, pasien harus mencapai keadaan eutiroid melalui terapi pendahuluan guna menurunkan risiko komplikasi perioperatif, khususnya krisis tiroid.[1,11,12]

Follow-up

Follow-up dilakukan di setelah prosedur radioiodine atau terapi pembedahan di rumah sakit hingga pasien dinyatakan bisa dirujuk kembali ke fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Follow-Up di Fasilitas Kesehatan Lanjutan (FKTL)

Setelah terapi definitif, baik melalui radioiodine maupun pembedahan, pasien memerlukan pemantauan berkala di fasilitas kesehatan lanjutan untuk menilai respons terapi dan mendeteksi komplikasi pascaterapi. Evaluasi terutama difokuskan pada pemeriksaan fungsi tiroid, meliputi kadar TSH dan FT4, yang umumnya dilakukan setiap 4–6 minggu pada fase awal hingga tercapai kondisi eutiroid atau hipotiroid stabil.[1,15,16,29,30]

Pada pasien pasca radioiodine, pemantauan ini penting untuk mendeteksi hipotiroidisme yang sering berkembang secara bertahap, sedangkan pada pasien pasca pembedahan evaluasi dilakukan untuk memastikan kecukupan terapi sulih hormon tiroid dan menilai komplikasi pasca operasi. Follow-up di FKTL dilanjutkan hingga kondisi klinis dan laboratorium pasien stabil serta tidak terdapat komplikasi aktif.[1,15,16,29,30]

Kesiapan Rujuk Balik ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)

Pasien toxic nodular goiter dinyatakan siap untuk dirujuk kembali ke FKTP apabila telah mencapai kondisi klinis stabil, ditandai dengan tidak adanya gejala hipertiroidisme aktif, fungsi tiroid yang terkendali, serta tidak terdapat komplikasi kardiovaskular akut atau indikasi evaluasi lanjutan oleh spesialis.[1,15,16,29]

Di FKTP, tindak lanjut berfokus pada pemantauan fungsi tiroid jangka panjang (setiap 6–12 bulan), evaluasi kepatuhan terapi, dan kebutuhan penyesuaian dosis levotiroksin bila diperlukan, pengendalian faktor risiko kardiovaskular, serta edukasi pasien mengenai pengenalan dini gejala gangguan fungsi tiroid.[1,15,16,29]

Referensi

1. Khalid N, Can AS. Plummer disease. StatPearls Publishing; 2025 Jan-. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK565856/
7. Ross DS. Diagnosis of Hyperthyroidisme. UpToDate. 2025. https://www.uptodate.com/contents/diagnosis-of-hyperthyroidism?topicRef=7873&source=see_link#H22
11. Orlander PR. Toxic Nodular Goiter. 2025. https://emedicine.medscape.com/article/120497
12. Saran S. Multinodular Goiter. Goiter - Causes and Treatment. IntechOpen; 2020. http://dx.doi.org/10.5772/intechopen.90325
15. Blick C, Nguyen M, Jialal I. Thyrotoxicosis. StatPearls Publishing; 2025 Jan https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482216/
16. Lee, S. Y., & Pearce, E. N. Hyperthyroidism: A Review. JAMA, 2023. 330(15), 1472–1483. https://doi.org/10.1001/jama.2023.19052
29. Ministry of Public Health Qatar. National Clinical Guideline: The Diagnosis and Management of Thyrotoxicosis in Adults. 2024.
30. Campennì, A., Avram, A.M., Verburg, F.A. et al. The EANM guideline on radioiodine therapy of benign thyroid disease. Eur J Nucl Med Mol Imaging, 2023. 50, 3324–3348 https://doi.org/10.1007/s00259-023-06274-5

Diagnosis Toxic Nodular Goiter
Prognosis Toxic Nodular Goiter

Artikel Terkait

  • Perkembangan Diagnostik Nodul Tiroid dengan Artificial Intelligence
    Perkembangan Diagnostik Nodul Tiroid dengan Artificial Intelligence
  • Peran Thyroid Scintigraphy dalam Mendiagnosis Kelainan Tiroid
    Peran Thyroid Scintigraphy dalam Mendiagnosis Kelainan Tiroid
  • Manajemen Hipertiroid Dalam Kehamilan
    Manajemen Hipertiroid Dalam Kehamilan
  • Efikasi dan Keamanan Methimazole dan Propylthiouracil pada Hipertiroid – Telaah Jurnal Alomedika
    Efikasi dan Keamanan Methimazole dan Propylthiouracil pada Hipertiroid – Telaah Jurnal Alomedika
Diskusi Terkait
Anonymous
Dibuat 15 Juli 2025, 10:18
Cara Tappering Down obat pada pasien Hipertiroid
Oleh: Anonymous
0 Balasan
ALO Dokter. Selamat pagi dok, izin diskusi mengenai pasien Hipertiroid, Laki laki 39 Tahun dengan pengobatan Tryzol selama 5 bulan dan didapatkan kadas FT4...
Anonymous
Dibalas 02 Mei 2025, 14:30
Apakah pasien dengan hipertiroid tidak boleh minum Teh dan Kopi?
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo Dokter, Maaf dok izin bertanya, Apakah hipertiroid tidak boleh minum Teh dan Kopi ?
Anonymous
Dibalas 26 Januari 2024, 07:55
Keluhan jantung berdabar, mudah berkeringat, namun hasil TSH normal
Oleh: Anonymous
5 Balasan
Selamat pagi rakn sejawatIzin bertanya, ada pasien perempuan 32 tahun memiliki gejala jantung berdebar2 SD 4 hari keringat jika melakukan pekerjaan kecil sjj...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.