Penatalaksanaan Campak
Penanganan pasca pajanan sangat penting untuk diberikan. Intervensi dapat berupa imunisasi aktif dengan vaksin MR atau imunisasi pasif menggunakan imunoglobulin,berdasarkan pada usia dan status vaksinasi pasien.
Penatalaksanaan untuk infeksi campak atau measles atau rubeola yang utama adalah terapi suportif dan pemberian vitamin A. Campak bersifat swasirna, sehingga tidak diperlukan pemberian antivirus. Sementara itu, antibiotik hanya diberikan pada kasus-kasus dengan bukti infeksi bakteri, seperti pada pasien yang mengalami komplikasi pneumonia bakterial atau otitis media.[2,13-15]
Berobat Jalan
Pasien dengan infeksi campak tanpa komplikasi dapat berobat jalan dengan mengutamakan terapi suportif, pengobatan simtomatis misalnya paracetamol untuk menurunkan demam, dan pemberian vitamin A. Pasien campak juga harus diisolasi dan disarankan untuk menggunakan masker sampai dengan 4 hari timbulnya ruam agar mengurangi risiko penularan.[2,13,15-17,25,27]
Pada bayi dan anak yang tidak mengalami dehidrasi, orang tua harus tetap diedukasi untuk mempertahankan status rehidrasi anak dengan minum atau menyusui dan mendorong anak untuk tetap makan.[15]
Persiapan Rujukan
Persiapan rujukan untuk campak dari fasilitas kesehatan primer terutama dilakukan pada mereka yang memenuhi indikasi untuk dirawat di Rumah Sakit, yaitu:
- Kejang, letargi, atau penurunan kesadaran
Respiratory distress, adanya gruntingdan retraksi dinding dada
- Tidak dapat makan dan minum atau menyusui atau muntah saat makan, sehingga intake buruk
- Kornea tampak keruh seperti berawan
- Ulserasi mulut yang ekstensif
-
Dehidrasi atau malnutrisi
Stridorkarena measles croup.[15]
Selain hal-hal tersebut, ada pula kelompok berisiko yang diindikasikan rawat untuk monitoring klinis lebih lanjut, yaitu sebagai berikut:
- Bayi atau orang dewasa berusia di atas 20 tahun
- Ibu hamil
- Anak dengan gizi buruk, terutama yang mengalami defisiensi vitamin A
- Pasien imunokompromais, misalnya kanker, mendapatkan pengobatan imunosupresif, atau HIV.[15]
Medikamentosa
Pada prinsipnya, pengobatan campak cukup simptomatik saja. Obat diberikan berdasarkan gejala yang dirasakan pasien misalnya antipiretik, seperti paracetamol, untuk mengatasi demam. Selain itu, pasien campak perlu mendapat vitamin A untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas campak.[2,15,17]
Pemberian antivirus tidak diperlukan pada mayoritas kasus, terutama pada individu imunokompeten karena campak mayoritas bersifat swasirna. Antibiotik hanya diberikan pada kasus-kasus yang disertai infeksi bakteri sekunder, seperti otitis media atau pneumonia.[2,13,15,17]
Vitamin A
World Health Organization (WHO) merekomendasikan setiap anak yang terdiagnosis campak harus mendapatkan 2 dosis vitamin A yang diberikan dengan jeda 24 jam. Pemberian vitamin A tersebut bertujuan untuk mencegah kerusakan pada mata ataupun kebutaan akibat campak dan juga untuk menurunkan angka kematian akibat campak.[3,15,28]
Dosis vitamin A yang direkomendasikan yaitu:
- Vitamin A 100.000 IU per oral untuk anak usia 6 bulan hingga 1 tahun
- Vitamin A 200.000 IU per oral untuk anak usia >1 tahun)
Vitamin A diberikan sekali sehari, selama 2 hari berturut-turut.[13]
Dosis tambahan diberikan dalam waktu 2-4 minggu pada anak yang sebelumnya mengalami defisiensi vitamin A atau anak yang mengalami komplikasi pada mata akibat campak.[3,13,15,28]
Antivirus
Antivirus tidak diperlukan pada anak yang imunokompeten. Secara in vitro, ribavirin dilaporkan dapat menurunkan durasi demam dan gejala konstitusional. Penggunaannya dapat dipertimbangkan pada anak risiko tinggi, yaitu anak usia <12 bulan, >12 bulan dengan ventilasi mekanik, dan imunokompromais.[13]
Antibiotik
Campak adalah penyakit akibat infeksi virus yang secara umum tidak memerlukan antibiotik, tetapi pemberian antibiotik dapat dipertimbangkan pada anak campak yang mengalami komplikasi infeksi bakteri sekunder seperti pneumonia dan otitis media.
Pemberian antibiotik bisa dipertimbangkan dengan melihat rasio manfaat dan risiko pada kasus:
- Anak yang termasuk dalam kelompok risiko tinggi campak berat
- Klinisi tidak dapat memonitor perkembangan pasien
- Jauh atau sulit menjangkau layanan kesehatan.
Pilihan antibiotik oral pada anak campak yang masuk dalam kriteria tersebut adalah:
Cotrimoxazole: trimethoprim 8 mg/kg dan sulfametoxazole 40 mg/kg perhari, terbagi 2 dosis, atau
Amoxicillin: dosis pada anak dengan berat badan <40kg adalah 20–40mg/kg/hari terbagi 3 dosis.
Antibiotik dapat diberikan selama 5 sampai 7 hari.[13]
Terapi Suportif
Terapi suportif yang dapat dilakukan terhadap pasien dengan infeksi campak antara lain pemberian cairan yang cukup untuk menghindari dehidrasi. Rekomendasi WHO adalah pemberian ORS sebagai pengganti cairan yang hilang melalui diare dan muntah.[3,15]
Kecukupan nutrisi, baik dengan makanan dan ASI yang adekuat juga perlu diperhatikan. Berat badan dan asupan nutrisi anak dipantau setiap hari. Selain itu, pasien juga dapat dikonsultasikan pada ahli gizi, terutama pada keadaan malnutrisi atau kurang gizi.[3,15]
Pada pasien campak yang mengalami sariawan, pasien bisa diminta untuk mencuci mulut dengan air bersih dan asin setidaknya empat kali sehari. IDAI menyarankan untuk menghindari memberikan anak makanan pedas. Jika sariawan muncul superinfeksi dengan bakteri, dapat diberikan antibiotik.[13]
Pada anak campak yang mengalami konjungtivitis ringan, cairan bening dan encer, tidak diperlukan pengobatan. Jika mata mengeluarkan pus atau sekret keruh, maka obati superinfeksi bakteri dengan salep bakteri, seperti salep tetrasiklin, dioleskan tiga kali sehari selama 7 hari. Bersihkan mata dengan hati-hati menggunakan kasa steril yang dicelupkan ke dalam air bersih yang sudah matang.[13]
Untuk merawat kulit, minta pasien memastikan kulit tetap bersih dan kering. Pantau tanda-tanda infeksi, seperti selulitis atau infeksi jaringan lunak lain. Salep tidak perlu diberikan untuk ruam campak.[13]
Kebutuhan Cairan pada Anak Muntah atau Diare tanpa Dehidrasi
Terapi suportif terutama rehidrasi sangat diperlukan pada campak, baik dengan rehidrasi oral bila pasien masih dapat makan dan minum, maupun parenteral. Cairan rehidrasi yang disarankan WHO pada anak dehidrasi adalah oral rehydration salts (ORS) yang mengandung glukosa 13,5 g/L, natrium klorida 2,6 g/L, kalium klorida 1,5 g/L, trisodium citrate dihydrate 2.9 g/L, dengan total osmolaritas 245 mOsm/L.[15]
Pada keadaan muntah atau diare dengan atau tanpa dehidrasi, anak harus diberikan cairan ORS dalam 4 jam pertama dengan dosis sebagai berikut:
Tabel 1. Pemberian ORS dalam 4 Jam Pertama
| Berat Badan | <5kg | 5-8kg | 8-11kg | 11-16kg | 16-30kg | >30kg |
| ORS dalam mL | 200-400mL | 400-600mL | 600-800mL | 800-1200mL | 1200-2200mL | 2200-4000mL |
Sumber: WHO, 2020.[15]
Berat badan yang digunakan adalah berat badan estimasi untuk usia 1 sampai 10 tahun, yaitu usia dalam tahun ditambah 4, kemudian dikalikan 2. Pada terapi rehidrasi ini, anak harus terus dipantau klinis, tanda vital, dan status hidrasi.[15]
Kebutuhan Cairan pada Dehidrasi Berat
Pemberian cairan pada anak dengan dehidrasi berat adalah dengan memberikan ORS sambil menunggu pemasangan infus. Kemudian, setelah infus terpasang, anak dapat diterapi dengan larutan isotonik, seperti normal salin (NS) atau NaCl 0,9% dan ringer laktat (RL) ditambah dengan cairan dekstrosa 10% atau 5% dengan jumlah 100 mL/kgBB.[15]
Pemberian cairan ini harus disertai dengan pemantauan klinis dan status hidrasi setiap 15 sampai 30 menit. Cara pemberian cairan pada anak yang mengalami dehidrasi pada campak adalah sebagai berikut.
Tabel 2. Pemberian Cairan pada Dehidrasi Berat
| Usia | Bolus Pertama, 30mL/kg | Bolus Kedua, 70mL/kg | Komposisi Cairan |
| Bayi <12 bulan | 1 jam | 5 jam | RL atau NS + Dextrosa 10% |
| 12 bulan sampai 5 tahun | 30 menit | 2,5 jam | RL + Dextrosa 5% atau NS + Dextrosa 10% |
Sumber: WHO, 2020.[15]
Pencegahan Pasca Pajanan
Pasien yang terpajan atau berkontak dengan pasien suspek campak, tetapi sudah berusia di atas 6 bulan dan sudah mendapat imunisasi campak, tidak memerlukan profilaksis pasca pajanan.
Pada pasien yang berusia di bawah 6 bulan, profilaksis pasca pajanan dapat diberikan dengan imunoglobulin intramuskular (IGIM) dalam 6 hari dari pajanan. Namun, jika pajanan sudah lewat dari 6 hari, maka tidak perlu diberikan profilaksis dan pasien cukup melakukan karantina mandiri.
Pada pasien usia di atas 6 bulan yang belum mendapat imunisasi campak dapat diberikan vaksinasi campak sesuai protokol vaksin.
Pada pasien usia di atas 12 bulan yang baru mendapat 1 dosis imunisasi campak, maka dapat diberikan imunisasi campak dosis kedua apabila jaraknya sudah lebih dari 28 hari sejak dosis pertama vaksin.[25]
Penulisan pertama oleh: dr. Amanda Sonia Arliesta
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha