Prognosis Campak
Prognosis infeksi campak atau measles atau rubeola umumnya baik karena merupakan self-limiting disease. Namun, pada keadaan tertentu seperti keadaan imunosupresi, malnutrisi, underweight, stunting, dan mengalami defisiensi vitamin A, infeksi campak dapat menyebabkan komplikasi sampai kematian.[1,6,13-15]
Komplikasi
Komplikasi dari infeksi campak lebih banyak ditemukan pada anak berusia di bawah 5 tahun, gizi buruk, tidak mendapatkan vaksinasi, imunodefisiensi seperti leukemia dan HIV, dewasa berusia lebih dari 20 tahun, serta pada kehamilan. Sebagian besar komplikasi infeksi campak disebabkan oleh kerusakan permukaan epitel dan/atau imunosupresi.[1-4]
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain diare, otitis media, pneumonia, ensefalitis, subacute sclerosing panencephalitis, dan kematian. Sementara itu, infeksi campak selama masa kehamilan meningkatkan risiko terjadinya abortus, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, serta kematian ibu.[1-4,14,15]
Prognosis
Campak merupakan self-limiting disease. Namun pada pasien dengan keadaan tertentu yang mengganggu sistem imun sehingga menghambat eradikasi virus dari dalam tubuh, seperti pada pasien imunokompromais, campak dapat bersifat fatal.[15]
Pada tahun 2025, case fatality rate campak di Indonesia dilaporkan sebesar 0,1%. Kematian terkait campak umumnya disebabkan oleh manifestasi campak berat, seperti pasien yang mengalami dehidrasi berat, pneumonia, atau syok septik. Faktor yang meningkatkan risiko campak berat adalah:
- Tidak pernah mendapat imunisasi campak
- Malnutrisi
- Anak berusia bawah lima tahun
- Pasien dengan komorbid dan imunokompromais
- Pasien yang sedang dalam terapi imunosupresan
- Ditemukan keterlibatan mukosa luas.[13]
Penulisan pertama oleh: dr. Amanda Sonia Arliesta
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha