Diagnosis Pes (Plague)
Penegakan diagnosis wabah pes atau plague berdasarkan pada evaluasi klinis meliputi gejala dan penggalian riwayat paparan risiko, mengingat sifat penyakit yang fulminan, inisiasi terapi antibiotik empiris harus segera dilakukan tanpa menunggu konfirmasi hasil laboratorium.[1,4]
Anamnesis
Anamnesis pasien dengan bubonic plague, umumnya datang dengan keluhan demam tinggi akut disertai kemunculan limfadenopati regional yang sangat nyeri (bubo), biasanya di area inguinal atau aksila. Pada kasus pneumonic plague, dokter perlu mewaspadai gejala progresif cepat berupa batuk produktif dengan sputum hemoptoe (bloody sputum), sesak napas berat, nyeri dada pleuritik, dan tanda-tanda kegagalan respirasi akut.[1,2]
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada bubonic plague menunjukkan adanya pembesaran kelenjar getah bening yang nyeri tekan, berbatas difus, dengan kulit di atasnya tampak eritematosa. Di sisi lain, pemeriksaan fisik pada pneumonic plague mendapati adanya tanda-tanda konsolidasi paru akut, takipnea, sianosis, serta penurunan saturasi oksigen yang dapat dengan cepat berlanjut menjadi syok septik.[2]
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang melalui metode pewarnaan gram pada spesimen klinis, seperti sputum atau cairan aspirasi endotrakeal, umumnya akan mengidentifikasi bakteri kokobasil Gram-negatif dengan karakteristik morfologi patognomonik berupa bipolar safety-pin appearance digunakan untuk mengonfirmasi diagnosis, uji lanjutan yang direkomendasikan yaitu tes imunodiagnostik cepat untuk mendeteksi antigen F1, amplifikasi asam nukleat melalui polymerase chain reaction (PCR).[3]
Diagnosis Banding Bubonic Plague
Diagnosis banding bubonic plague mencakup berbagai penyakit infeksi bakteri maupun zoonosis lain yang memicu pembesaran kelenjar getah bening regional secara akut.
Limfadenitis Supuratif Akut
Limfadenitis Supuratif Akut merupakan infeksi bakteri piogenik pada kulit, disebabkan bakteri Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes. Kondisi ini umumnya disertai tanda radang lokal dan penelusuran riwayat port d'entry luka yang jelas. Ketiadaan riwayat paparan zoonotik sangat membantu membedakannya dengan infeksi pes [6].
Tularemi
Penyakit zoonosis akibat Francisella tularensis yang juga ditularkan melalui gigitan vektor hewan pengerat atau kutu. Tularemia sering menampilkan lesi ulseroglandular persis menyerupai pes bubo, sehingga pemetaan riwayat epidemiologis regional menjadi penentu utama [2,6].
Cat-Scratch Disease (Penyakit Cakar Kucing)
Infeksi akibat Bartonella henselae yang ditandai dengan limfadenopati regional. Berbeda dengan pes yang fulminan, progresivitas penyakit ini jauh lebih lambat (indolen) dan pasien memiliki riwayat spesifik kontak atau cakaran kucing [6, 7].
Limfogranuloma Venereum (LGV)
Infeksi menular seksual akibat Chlamydia trachomatis yang bermanifestasi sebagai pembengkakan kelenjar inguinal unilateral yang nyeri. Anamnesis mendalam mengenai riwayat aktivitas seksual krusial untuk mengeksklusi diagnosis ini [2].
Diagnosis Banding Pneumonic Plague
Diagnosis banding pneumonic plague mencakup berbagai patogen penyebab pneumonia komunitas (community-acquired pneumonia) derajat berat, infeksi viral eksponensial, serta penyakit akibat patogen spesifik agen ancaman Kategori A.[2,7
Pneumonia Komunitas Berat (Community-Acquired Pneumonia/CAP)
Infeksi paru akut oleh bakteri tipikal maupun atipikal seperti Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumoniae, atau Legionella pneumophila. Pembeda utamanya adalah progresivitas klinis pes paru yang sangat hiperakut, ditandai dengan batuk hemoptisis masif yang jarang memburuk secepat itu pada CAP konvensional [2,7].
Pneumonia Viral Berat
infeksi saluran napas eksponensial akibat virus influenza berat, Hantavirus, atau sindrom pernapasan koronavirus yang memicu Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) [7].
Inhalasi Antraks (Inhalational Anthrax)
Secara profil biosekuriti, Yersinia pestis dan Bacillus anthracis sama-sama diklasifikasikan sebagai agen ancaman patogen Kategori A (Tier 1) yang sangat mematikan apabila disebarkan via aerosol. Keduanya menimbulkan sindrom pneumonia fulminan secara mendadak. Oleh karena itu, kecurigaan riwayat pajanan sampel laboratorium mikrobiologi berisiko tinggi (BSL-3) atau indikasi bioterorisme wajib diinvestigasi sebagai kondisi darurat [1, 6, 7].