Epidemiologi Pes (Plague)
Epidemiologi wabah pes atau plague mencakup riwayat pandemi global, pemetaan endemisitas modern, serta kewaspadaan terhadap risiko paparan spesimen di laboratorium mikrobiologi dan ancaman bioterorisme.
Global
Wabah pes dikenal sebagai salah satu infeksi yang memicu pandemi mematikan dan merenggut jutaan nyawa di seluruh dunia. Di era modern, data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa penyakit ini masih bersifat endemis di sejumlah negara yang tersebar di benua Afrika, Amerika, dan Asia. [2]
Sebagian besar kasus pes global saat ini terkonsentrasi di benua Afrika. Namun, tiga negara dengan tingkat endemisitas tertinggi mencakup kawasan Afrika dan Amerika Selatan, yakni Madagaskar, Republik Demokratik Kongo, dan Peru.[2,5]
Di luar penyebaran secara alamiah, profil epidemiologi wabah pes juga sangat menyoroti aspek biosekuriti dan infeksi terkait paparan kerja di fasilitas kesehatan (occupational hazard). Laporan insiden pada tahun 2026 mencatat terjadinya wabah di Rusia yang dipicu oleh kasus fatal pneumonic plague pada seorang pekerja laboratorium, yang menuntut penerapan protokol respons wabah dan karantina ketat oleh otoritas setempat [1].
Indonesia
Berdasarkan pemetaan global WHO saat ini, Indonesia tidak termasuk ke dalam wilayah endemis wabah pes. Meskipun insidensi aktif saat ini tidak dilaporkan, sejawat tenaga medis di Indonesia tetap perlu kewaspadaan klinis, terutama ketika menghadapi pasien dengan gejala pneumonia progresif cepat yang memiliki riwayat perjalanan dari kawasan endemik global, atau pada individu yang memiliki profesi berisiko tinggi di fasilitas laboratorium rujukan tingkat tinggi (BSL-3).[1-3]
Mortalitas
Tingkat mortalitas wabah pes atau plague bergantung pada kecepatan pengenalan klinis dan inisiasi terapi antibiotika empiris. Berdasarkan data agregat dari World Health Organization (WHO), tercatat sebanyak 3.248 kasus pes yang dilaporkan secara global pada periode tahun 2010 hingga 2015, yang mengakibatkan 584 kematian.
Pada kasus bubonic plague tanpa terapi Case Fatality Rate (CFR) dapat mencapai 30–60%, dan kasus pneumonic plague membawa prognosis yang sangat buruk (dubia ad malam) dengan angka mortalitas yang hampir mendekati 100%.[2,3]