Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Penatalaksanaan Pes (Plague) nurh-syadawani 2026-10-09T13:27:30+07:00 2026-10-09T13:27:30+07:00
Pes (Plague)
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Penatalaksanaan Pes (Plague)

Oleh :
dr.Nurh Syada
Share To Social Media:

Prinsip penatalaksanaan wabah pes atau plague adalah kecepatan pengenalan klinis dan inisiasi terapi antibiotika empiris. Mengingat angka fatalitas pneumonic plague yang dapat mendekati 100% apabila tidak diobati, pemberian antimikroba tidak boleh ditunda untuk menunggu hasil kultur laboratorium. Tatalaksana pes mencakup intervensi non farmakologis (termasuk pencegahan infeksi) dan farmakologis yang agresif.[2.7]

Pengobatan Aktif Pada Pasien Terkonfirmasi

Terapi farmakologis lini pertama berpusat pada penggunaan antibiotik golongan fluoroquinolon dan aminoglikosida, rute pemberian intravena (IV) pada fase awal perawatan pasien dengan keadaan klinis berat, septikemia, atau pneumonia pes.[3]

Golongan Fluoroquinolone

Pemberian antibiotik golongan fluoroquinolone untuk pasien dewasa mencakup ciprofloxacin dengan dosis 400 mg secara intravena setiap 8 jam, atau 750 mg peroral setiap 12 jam. Pada populasi pediatrik, ciprofloxacin direkomendasikan dengan dosis 15 mg/kgBB secara intravena setiap 8 jam (maksimal 400 mg/dosis), atau 20 mg/kgBB peroral setiap 12 jam. Sebagai alternatif, levofloxacin untuk pasien dewasa dapat diberikan dengan dosis 750 mg secara intravena maupun peroral setiap 24 jam, sedangkan dosis pediatriknya (berat badan <50 kg) adalah 8 mg/kgBB setiap 12 jam (maksimal 250 mg/dosis).[2,3]

Durasi total pengobatan standar untuk terapi lini pertama ini adalah 10 hingga 14 hari. Keunggulan utama dari golongan ini adalah ketersediaan sediaan oral yang memiliki bioavailabilitas sangat baik, sehingga menjadikannya pilihan ideal untuk memfasilitasi transisi terapi menuju rawat jalan.[3]

Golongan Aminoglikosida

Penggunaan antibiotik golongan aminoglikosida menyediakan opsi gentamicin, yang pada pasien dewasa diberikan dengan dosis 5 mg/kgBB secara intravena atau intramuskular satu kali sehari, ataupun dalam dosis terbagi sebesar 1,7 mg/kgBB setiap 8 jam. Untuk pasien anak, gentamicin diberikan dengan dosis 2,5 mg/kgBB secara intravena atau intramuskular setiap 8 jam.[3]

Pilihan lainnya di dalam golongan ini adalah streptomycin dengan dosis dewasa 1 gram intramuskular atau intravena setiap 12 jam, dan dosis pediatrik sebesar 15 mg/kgBB setiap 12 jam (maksimal 1 gram/dosis). Seluruh regimen terapi menggunakan golongan aminoglikosida ini direkomendasikan untuk diberikan selama 10 hingga 14 hari pengobatan. Opsi aminoglikosida ini merupakan lini pertama pengobatan dengan profil bakterisidal yang sangat kuat, serta sering kali diindikasikan penggunaannya secara spesifik pada penatalaksanaan kasus infeksi derajat berat.[3]

Golongan Tetrasiklin

Pilihan antibiotik alternatif dapat menggunakan golongan tetrasiklin berupa doxycycline. Pada pasien dewasa, pemberian regimen ini diawali dengan dosis awal (loading dose) sebesar 200 mg secara intravena atau peroral, yang kemudian dilanjutkan dengan dosis 100 mg intravena atau peroral setiap 12 jam. Untuk populasi pediatrik, doxycycline diberikan dengan dosis 2,2 mg/kgBB secara intravena atau peroral setiap 12 jam (dengan batas dosis maksimal 100 mg/dosis).[3]

Golongan Amphenicol Pada Kondisi Khusus

penggunaan antibiotik golongan amphenicol dapat digunakan dalam kondisi khusus. Regimen ini secara spesifik direkomendasikan sebagai pilihan utama apabila pasien mengalami komplikasi penyebaran infeksi ke susunan saraf pusat, seperti pada kasus plague meningitis. Chloramphenicol diberikan dengan dosis 25 mg/kgBB secara intravena setiap 6 jam.

Durasi pengobatan standar direkomendasikan selama 10 hingga 14 hari. Apabila pasien telah menunjukkan kondisi hemodinamik yang stabil dan bebas demam (afebrile) selama minimal 2 hari berturut-turut dapat dilanjutkan dengan terapi step-down menggunakan sediaan oral.[3]

Profilaksis Pasca-Paparan (Post-Exposure Prophylaxis / PEP)

PEP secara ketat diindikasikan bagi individu yang memiliki riwayat kontak erat (jarak <2 meter) tanpa APD adekuat dari penderita pneumonic plague, atau petugas yang terpapar patogen akibat insiden kecelakaan sampel laboratorium. PEP direkomendasikan untuk diberikan selama 7 hari penuh. [2,3]

Pilihan regimen antibiotik oral untuk keperluan profilaksis pada dewasa meliputi pemberian doxycycline dengan dosis 100 mg setiap 12 jam, ciprofloxacin dosis 500 mg setiap 12 jam, atau levofloxacin dosis 500 mg dengan frekuensi satu kali sehari. Pada populasi pediatrik, opsi regimen profilaksis meliputi doxycycline dengan dosis 2,2 mg/kgBB setiap 12 jam (maksimal 100 mg/dosis), atau ciprofloxacin 15 mg/kgBB setiap 12 jam (maksimal 500 mg/dosis). Keseluruhan opsi regimen profilaksis tersebut wajib diberikan selama durasi 7 hari berturut-turut.[3]

Rasionalisasi Penggunaan Doxycycline pada Anak

Meskipun antibiotik golongan tetrasiklin secara umum dikontraindikasikan pada anak berusia di bawah 8 tahun akibat risiko gangguan pertumbuhan tulang dan diskolorasi gigi permanen, pengecualian mutlak diberikan pada kasus kedaruratan infeksi mematikan seperti pes. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan American Academy of Pediatrics (AAP) menegaskan bahwa manfaat penyelamatan nyawa dari doxycycline pada infeksi Yersinia pestis jauh melampaui risiko potensialnya. Selain itu, pemberian doxycycline dalam durasi singkat (kurang dari 21 hari) terbukti secara klinis tidak memicu diskolorasi gigi yang signifikan pada anak.[3]

Perawatan Suportif

Selain eradikasi patogen melalui pemberian antibiotik secara dini, perawatan suportif memegang peranan krusial dalam menekan angka mortalitas, terutama pada kasus pes derajat berat. Pada kondisi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) yang umum dijumpai pada manifestasi pneumonic plague, manajemen jalan napas (airway management) yang agresif sangat diperlukan.[6,7]

Intervensi ini mencakup proteksi jalan napas definitif melalui intubasi endotrakeal dan dukungan ventilasi mekanis protektif paru di unit perawatan intensif (ICU). Lebih lanjut, pada pasien yang jatuh ke dalam kondisi syok septik, stabilisasi hemodinamik mutlak dilakukan melalui resusitasi cairan kristaloid secara adekuat yang dipandu dengan parameter hemodinamik, serta inisiasi agen vasopresor secara dini.[6,7]

Pencegahan Transmisi dan Kendali Infeksi

Tingginya virulensi dan potensi transmisi aerosol pada pneumonic plague menuntut penerapan protokol pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) yang ketat di fasilitas layanan kesehatan guna mencegah transmisi nosokomial. Langkah-langkah esensial yang wajib diterapkan meliputi.[2,3]

Isolasi Pasien

Pasien dengan suspek maupun terkonfirmasi pneumonic plague wajib segera ditempatkan di ruang perawatan isolasi, idealnya dengan fasilitas tekanan negatif. Kewaspadaan standar harus diterapkan secara bersamaan dengan kewaspadaan transmisi droplet.[2,3]

Khusus untuk tindakan medis yang memicu aerosol (seperti intubasi atau suction), kewaspadaan transmisi airborne mutlak diperlukan. Protokol isolasi ini baru dapat dihentikan apabila pasien telah menerima terapi antibiotik spesifik secara kontinu selama minimal 48 hingga 72 jam dan menunjukkan perbaikan klinis yang objektif.[2,3]

Alat Pelindung Diri (APD)

Komponen APD mencakup masker respiratorik (minimal N95 atau FFP2), pelindung mata (goggles atau face shield), gaun pelindung kedap cairan lengan panjang, dan sarung tangan medis.[2,3]

Profilaksis Pascapajanan (PEP)

Pemberian PEP diindikasikan secara ketat bagi individu dengan riwayat kontak erat (jarak <2 meter) terhadap pasien pneumonic plague tanpa proteksi APD yang adekuat, serta bagi petugas laboratorium yang mengalami kecelakaan kerja akibat paparan spesimen. Regimen profilaksis menggunakan doxycycline atau fluoroquinolone wajib segera diinisiasi dan diberikan selama 7 hari penuh guna mencegah manifestasi klinis infeksi.[2,3]

Referensi

2. World Health Organization. Plague fact sheet. World Health Organization. Published 2023. Accessed October 8, 2026. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/plague
3. Nelson CA, Meaney-Delman D, Fleck-Derderian S, Cooley KM, Yu PA, Mead PS. Antimicrobial treatment and prophylaxis of plague: recommendations for naturally acquired infections and bioterrorism response. MMWR Recomm Rep. 2021;70(3):1-27. doi:10.15585/mmwr.rr7003a1
6. Barbieri R, Signoli M, Chevé D, et al. Yersinia pestis: the natural history of plague. Clin Microbiol Rev. 2021;34(1):e00044-19. doi:10.1128/CMR.00044-19
7. Yang R. Plague: recognition, treatment, and prevention. J Clin Microbiol. 2018;56(1):e01519-17. doi:10.1128/jcm.01519-17

Diagnosis Pes (Plague)
Prognosis Pes (Plague)

Artikel Terkait

  • Tata Laksana Kritis Pes Pneumonia: Pembelajaran dari Kasus Laboratorium dan Panduan Antibiotika Terkini
    Tata Laksana Kritis Pes Pneumonia: Pembelajaran dari Kasus Laboratorium dan Panduan Antibiotika Terkini
Diskusi Terkait
dr. Hudiyati Agustini
Dibalas 06 Oktober 2026, 10:51
Kematian Peneliti di Rusia akibat Pneumonic Plague: Seberapa Besar Risiko Epidemi?
Oleh: dr. Hudiyati Agustini
1 Balasan
ALO Dokter,The BMJ pada tanggal 5 Oktober 2026 melaporkan kematian seorang peneliti laboratorium wanita berusia 28 tahun di sebuah institut riset dekat...

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.