Risiko morbiditas maternal pada sectio caesarea hanya memiliki perbedaan yang sangat rendah dengan persalinan per vaginam. Namun, operasi sectio caesarea juga memiliki risiko komplikasi akibat operasi, misalnya infeksi atau sepsis, memiliki biaya yang lebih tinggi, serta membutuhkan waktu rawat yang lebih lama.
Operasi sectio caesarea (SC) merupakan prosedur bedah yang bertujuan untuk mengeluarkan bayi dari dalam rahim ibu dengan menggunakan insisi pada abdomen dan rahim.[1] Data epidemiologi menunjukkan keterbatasan fasilitas dan kurangnya jumlah sectio caesarea di suatu daerah dapat meningkatkan angka mortalitas dan morbiditas ibu dan bayi di daerah tersebut. Namun, sectio caesarea tanpa indikasi diduga justru meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada ibu.[2-4]
Morbiditas Maternal Terkait Operasi Sectio Caesarea
Efek samping terkait sectio caesarea masih menjadi perdebatan. Pasien yang menjalani sectio caesarea dianggap memiliki kondisi dasar yang lebih buruk dibanding pasien yang melahirkan secara per vaginam. Hal ini dapat menjadi pencetus angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi pada pasien-pasien tersebut.
Kesimpulan ini diperkuat dengan adanya data yang menunjukkan bahwa pasien yang menjalani sectio caesarea gawat darurat memiliki risiko mortalitas dua kali lipat dibandingkan sectio caesarea terencana. Artinya, komplikasi pada pasien mungkin saja tidak disebabkan secara langsung oleh tindakan sectio caesarea, namun disebabkan oleh fakta bahwa pasien dengan kondisi dasar yang lebih buruk lebih sering menjalani persalinan dengan sectio caesarea.[5,6]
Morbiditas Maternal Sectio Caesarea pada Negara Maju
Meskipun begitu, terdapat pula hasil yang menunjukkan kesimpulan yang berbeda. Pasien dengan sectio caesarea terencana memiliki risiko terjadinya histerektomi akibat perdarahan postpartum dan henti jantung yang lebih tinggi dibandingkan pasien dengan persalinan per vaginam. Hal yang patut menjadi perhatian adalah penelitian tersebut dilakukan di negara maju dengan angka komplikasi yang sangat rendah. Sectio caesarea juga memperpanjang lama rawat setelah persalinan selama 0,6-1,4 hari. [7,8]
Dengan risiko relatif histerektomi mencapai 2,31 kali lipat, dan henti jantung sebesar 4,91 kali lipat dibandingkan persalinan per vaginam, beberapa ahli berpendapat bahwa sectio caesarea tanpa indikasi harus dihindari, sementara ahli lain berpendapat bahwa prevalensi kejadian yang ada terlalu kecil untuk dijadikan alasan untuk mengurangi angka sectio caesarea.[7,8]
Studi retrospektif pada 594.655 persalinan sectio caesarea di California selama 2016–2021 menemukan severe perioperative surgical morbidity pada 10.182 kasus (1,71%). Komplikasi yang paling sering berupa komplikasi luka (0,59%), cedera kandung kemih/genitourinaria/panggul (0,45%), ileus atau obstruksi usus (0,33%), syok (0,15%), dan cedera usus intraoperatif (0,14%). Risiko morbiditas berat lebih tinggi pada SC intrapartum dibandingkan SC sebelum persalinan (2,03% vs 1,46%).[14]
Morbiditas Maternal Sectio Caesarea pada Negara Berkembang
Penelitian lain di negara berkembang membandingkan sectio caesarea dan persalinan dengan ekstrasi vakum. Pada setting dengan sumber daya terbatas, angka morbiditas maternal berupa ruptur uteri, histerektomi, laparotomi, serta kematian menurun secara signifikan pada pasien yang menjalani ekstraksi vakum.
Hasil ini menunjukkan bahwa persalinan dengan ekstraksi vakum dapat menjadi pilihan yang lebih aman untuk menekan angka sectio caesarea. Namun, perlu diingat bahwa ekstraksi vakum tidak selalu berhasil, dan kegagalan tersebut dapat menjadi indikasi untuk sectio caesarea.
Di lain pihak, data juga menunjukkan bahwa sebagian pasien yang direncanakan menjalani sectio caesarea dapat menjalani ekstraksi vakum percobaan pada saat menunggu kamar (22,1% pasien), dengan angka kesuksesan 92,4%. Risiko morbiditas maternal pada kelompok pasien ini tidak berbeda dengan kelompok sectio caesarea.[10]
Yang patut menjadi perhatian adalah tingginya angka mortalitas dalam persalinan di negara berkembang; angka kematian ibu setelah sectio caesarea di Afrika mencapai 50 kali lipat lebih tinggi dibanding negara maju. Hal ini terkait risiko perioperatif yang lebih tinggi pada pasien-pasien di negara berkembang akibat akses kesehatan terkait kehamilan dan persalinan, terutama terkait sectio caesarea yang sangat terbatas.[11]
Morbiditas setelah sectio caesarea tidak hanya terjadi pada periode perioperatif, tetapi dapat berlanjut hingga beberapa bulan postpartum. Studi kohort multisenter pada 3.112 perempuan di India menemukan bahwa SC berhubungan dengan risiko masuk ICU sebesar 2,59 kali dan transfusi darah sebesar 4,33 kali dibandingkan persalinan per vaginam. Pada follow-up hingga 6 bulan, beberapa keluhan seperti nyeri, infeksi luka operasi, inkontinensia urine, mastitis, dan kelemahan juga lebih sering ditemukan pada kelompok SC.[15]
Morbiditas Maternal Terkait Operasi Sectio Caesarea Berulang
Sectio caesarea berulang meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa, plasenta akreta, dan histerektomi pada ibu. Risiko tersebut meningkat secara progresif seiring jumlah sectio caesarea pada pasien, dengan peningkatan risiko yang signifikan pada pasien dengan >3 kali sectio caesarea. Data ini berarti risiko terbesar pada pasien yang menjalani sectio caesarea bukanlah pada persalinan sectio caesarea pertama, melainkan kehamilan dan persalinan setelahnya, sehingga pasien yang tidak memiliki rencana untuk hamil kembali tidak perlu mempertimbangkan risiko ini.[12]
Operasi Sectio Caesarea Atas Permintaan Sendiri
Sebuah kajian etik dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia menyatakan bahwa sectio caesarea terencana hanya memiliki sedikit perbedaan morbiditas maternal dengan persalinan per vaginam, dan memperbolehkan dokter spesialis obstetri dan ginekologi melakukan tindakan sectio caesarea berdasarkan permintaan pasien.
Kajian tersebut menyatakan bahwa sectio caesarea yang dilakukan pada usia kehamilan >39 minggu tidak meningkatkan risiko morbiditas maternal. Sebaliknya, sectio caesarea yang direncanakan dengan baik dapat membantu ibu dalam perencanaan setelah persalinan.[13]
Di Indonesia, sectio caesarea atas permintaan sendiri yang tertulis secara eksplisit diperbolehkan setelah pasien mendapat penjelasan dari dokter yang akan melakukan pembedahan mengenai:
- Persalinan secara sectio caesarea akan dilakukan walaupun berdasarkan pemeriksaan dokter, pasien dapat melahirkan secara per vaginam
- Persalinan secara sectio caesarea tidak lebih baik maupun lebih berisiko jika dibandingkan dengan persalinan per vaginam
-
Adanya risiko yang dapat timbul pada ibu dan janin terkait tindakan sectio caesarea, misalnya infeksi atau sepsis, biaya yang lebih tinggi, waktu rawat inap yang lebih lama[13]
Hal ini sejalan dengan rekomendasi dari The American College of Obstetricians and Gynecologists, yang menyatakan bahwa meskipun dokter harus tetap memberikan edukasi dan rekomendasi agar pasien memilih persalinan per vaginam, dokter tidak boleh menolak permintaan pasien untuk menjalani sectio caesarea jika usia kehamilan >39 minggu. Pasien harus tetap diingatkan bahwa risiko terjadinya plasenta previa, plasenta akreta, dan histerektomi meningkat secara progresif seiring jumlah sectio caesarea yang dijalani pasien.[1]
Kesimpulan
Sectio caesarea merupakan tindakan yang dapat menyelamatkan ibu dan bayi bila dilakukan atas indikasi medis, tetapi tetap memiliki risiko morbiditas perioperatif dan postpartum. Risiko tersebut perlu dipertimbangkan bersama kondisi klinis dan indikasi persalinan, terutama karena pasien yang menjalani SC umumnya memiliki kondisi dasar yang berbeda dari pasien dengan persalinan per vaginam.
Oleh karena itu, sectio caesarea tanpa indikasi medis sebaiknya dihindari. Pada pasien yang meminta SC tanpa indikasi obstetrik, dokter perlu memberikan penjelasan mengenai manfaat dan risiko SC, termasuk komplikasi perioperatif, komplikasi postpartum, serta risiko pada kehamilan berikutnya akibat SC berulang.
