Halusinasi kerap dikaitkan dengan gangguan psikiatri, tetapi apabila evaluasi berhenti pada asumsi tersebut maka dokter berisiko melewatkan berbagai penyebab medis signifikan yang berpotensi mengancam jiwa, termasuk infeksi, gangguan metabolik, dan intoksikasi obat.
Pada kasus psikiatri, halusinasi dapat muncul akibat kondisi seperti skizofrenia dan gangguan psikotik akut. Pada kasus non-psikiatri, halusinasi dapat ditemukan pada kondisi seperti tumor otak, demensia Lewy body, epilepsi lobus temporal, ataupun delirium akibat gangguan metabolik akut.[1]
Diagnosis Banding Penyebab Halusinasi
Halusinasi didefinisikan sebagai persepsi sensorik tanpa adanya stimulus eksternal yang nyata. Halusinasi dapat melibatkan berbagai modalitas sensorik, termasuk auditorik, visual, olfaktori, gustatorik, maupun taktil.
Selain modalitas sensorik, aspek lain yang perlu dievaluasi meliputi awitan gejala, durasi, frekuensi, hubungan dengan perubahan tingkat kesadaran, serta adanya gejala neurologis atau sistemik penyerta. Halusinasi yang muncul secara akut dalam hitungan jam hingga beberapa hari kebanyakan lebih mengarah pada penyebab medis dibandingkan gangguan psikiatri primer yang lebih sering berkembang bertahap selama beberapa minggu hingga bulan.[1-5]
Gangguan Metabolik
Halusinasi sebagai akibat dari gangguan metabolik timbul sebagai bagian dari gejala delirium. Halusinasi akan bersifat akut dan dapat berakibat fatal bila tidak segera ditangani. Pada gangguan metabolik, penderita akan mengalami halusinasi yang disertai dengan perubahan atensi dan kesadaran. Beberapa gangguan metabolik yang dapat menyebabkan kondisi ini adalah:
- Anemia berat yang terjadi secara akut. Pada anemia kronis jarang sekali dijumpai tanda delirium kecuali bila disertai gangguan medis lain, karena tubuh telah beradaptasi secara perlahan.
- Ensefalopati yang dapat diakibatkan oleh insufisiensi renal berat, disfungsi liver, sepsis, hipoksia, gangguan keseimbangan elektrolit berat, dehidrasi, hiperpireksia (sindrom neuroleptik maligna, drug-induced pyrexia, maupun heat stroke), serta hipoglikemia atau hiperglikemia.
- Penggunaan obat atau perubahan regimen farmakoterapi, terutama polifarmasi pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati, dapat meningkatkan konsentrasi dan memperpanjang paparan sehingga meningkatkan risiko interaksi yang memicu delirium. Contoh obat: antihistamin generasi pertama seperti chlorpheniramine maleate dan diphenhydramine; obat batuk seperti dextromethrophan; ciprofloxacin; oseltamivir; levodopa; zolpidem; dan kortikosteroid dosis tinggi seperti prednison dan dexamethasone.
- Intoksikasi obat atau psikotropika seperti kokain dan amfetamin, LSD, Psilocybin atau yang dikenal dengan magic mushroom, ketamin, dan kafein dosis tinggi.[4, 5,12,13]
Gangguan Neurologi
Pada gangguan neurologis, halusinasi biasanya hanya merupakan salah satu gejala yang muncul di antara manifestasi klinis lain yang telah ada sebelumnya. Beberapa kondisi neurologis khusus yang dapat memunculkan gejala halusinasi antara lain:
- Penyakit neurodegeneratif, seperti Parkinson, Alzheimer, demensia Lewy body
- Epilepsi
- Lesi pada otak: stroke, tumor otak, cedera otak traumatik, dan infeksi seperti ensefalitis
- Gangguan lain seperti multiple sclerosis dan sindrom Charles Bonnet.[1-7]
Penyakit Parkinson:
Pada penyakit Parkinson, halusinasi tidak muncul pada fase awal. Insidensinya diperkirakan sekitar 80 kasus per 1000 penderita dalam setahun. Halusinasi pada Parkinson ditemukan pada stadium lanjut dengan faktor risiko usia tua, adanya tanda-tanda demensia atau gangguan fungsi kognitif, gangguan tidur, serta penggunaan polifarmasi dalam waktu lama.
Jenis halusinasi yang paling sering ditemukan adalah halusinasi visual. Namun, bentuk lain seperti halusinasi auditorik, olfaktori, maupun taktil juga dapat muncul, meskipun dengan prevalensi yang lebih rendah.[4,7,8]
Demensia:
Gejala neuropsikiatri hampir selalu ada pada pasien dengan demensia, dengan prevalensi sekitar 97%. Gejala psikotik seperti halusinasi dan delusi merupakan gejala neuropsikiatri yang paling sering terjadi.
Dalam sebuah tinjauan sistematik, dilaporkan prevalensi gejala psikosis sebesar 41% pada penyakit Alzheimer, yang terdiri dari 23% delusi, 5% halusinasi, dan 13% kombinasi delusi-halusinasi. Delusi lebih sering terjadi pada usia lanjut dengan depresi dan agitasi, sementara halusinasi terjadi pada demensia berat dan durasi penyakit yang lama.
Pada demensia non-Alzheimer, gejala psikotik paling sering muncul pada demensia Lewy body (75%), demensia Parkinson (50%), demensia vaskular (15%), dan demensia frontotemporal (10%).[4,5,9,10]
Epilepsi:
Epilepsi dapat menimbulkan gejala psikiatri dengan prevalensi sekitar 43,3% dan gejala psikotik (halusinasi, delusi, dsb) ditemukan pada sekitar 4% penderita. Salah satu bentuk epilepsi yang paling sering disertai halusinasi adalah epilepsi lobus temporal.
Kerusakan pada struktur lobus temporal, seperti sklerosis hipokampus atau tumor low-grade, diketahui meningkatkan risiko terjadinya halusinasi. Gejala halusinasi dapat muncul pada periode pre-iktal, iktal, post-iktal, maupun interiktal.[4,9]
Sindrom Charles Bonnet:
Pada penderita yang mengalami kehilangan semua atau sebagian lapang pandang, misalnya akibat stroke atau glaukoma, korteks visual akan menghasilkan gambaran untuk mengisi area yang hilang. Kondisi tersebut dikenal sebagai sindrom Charles Bonnet. Halusinasi seperti ini biasanya bersifat sementara dan dapat berkurang seiring dengan berjalannya waktu.[4,11]
Gangguan Psikiatri
Dalam konteks psikiatri, halusinasi muncul tanpa disertai adanya defisit neurologis maupun gangguan metabolik akut. Hal ini disebabkan karena adanya disfungsi neurotransmiter dalam jaringan otak sehingga mempengaruhi sistem persepsi, bukan akibat dari gangguan struktural di otak.
Halusinasi sendiri merupakan satu dari 5 domain gejala gangguan psikotik menurut DSM-5. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa halusinasi paling sering ditemukan pada kasus psikiatri, terutama skizofrenia dibandingkan dengan penyebab lain. Terdapat beberapa karakteristik halusinasi yang dapat membantu mengarahkan ke skizofrenia dibandingkan kondisi psikiatri maupun medis lain, yaitu:
- Halusinasi pendengaran yang bersifat negatif dan merendahkan
- Halusinasi perintah
- Suara yang berbicara tentang individu dalam orang ketiga
- Lokasi suara yang dirasakan berasal dari ruang eksternal (bukan dari dalam diri).
Selain itu, halusinasi multimodal (> 3 tipe halusinasi) juga sering dijumpai pada skizofrenia, meskipun dapat juga terjadi pada intoksikasi obat dan alkohol, serta pada narkolepsi. Kondisi psikiatri lain seperti gangguan bipolar dan gangguan kepribadian disosiatif juga dapat menampilkan lebih dari satu tipe halusinasi meskipun tidak sebanyak skizofrenia.[4,6]
Cara Menangani Pasien Halusinasi di Instalasi Gawat Darurat
Evaluasi awal selalu dimulai dengan memastikan stabilitas jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi. Bersamaan dengan itu, tentukan apakah halusinasi merupakan bagian dari delirium, perubahan status mental akut, atau kondisi psikiatri. Adanya delirium dan perubahan status mental akut lebih sering disebabkan oleh penyakit medis dibandingkan gangguan psikiatri primer.[1,3-5,14,15]
Anamnesis dan Pemeriksaan Awal
Selama anamnesis, penting untuk menggali waktu awitan halusinasi, progresivitas gejala, jenis halusinasi (auditorik, visual, taktil, olfaktori, atau gustatorik), riwayat penyakit neurologis maupun psikiatri, penggunaan obat resep, alkohol, zat psikoaktif, riwayat trauma kepala, serta memperoleh informasi tambahan dari keluarga atau pendamping apabila pasien tidak mampu memberikan keterangan yang reliabel.
Pemeriksaan awal disesuaikan dengan kemungkinan diagnosis banding yang diarahkan dari hasil anamnesis singkat. Ini bisa mencakup pemeriksaan kadar glukosa darah kapiler, tingkat kesadaran menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS), serta penilaian atensi dan orientasi. Demam, hipotensi, hipoksia, takikardia, hipoglikemia, atau penurunan kesadaran mengindikasikan kemungkinan adanya penyebab organik yang memerlukan penanganan segera.[1,3-5,14,15]
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang difokuskan untuk mengidentifikasi penyebab medis yang dapat diobati. Analisis gas darah dilakukan apabila terdapat dugaan hipoksia, hiperkapnia, atau gangguan asam-basa.
Neuroimaging berupa CT scan kepala tanpa kontras diindikasikan pada pasien dengan defisit neurologis fokal, trauma kepala, penurunan kesadaran yang tidak dapat dijelaskan, atau kecurigaan perdarahan intrakranial. MRI otak dipertimbangkan bila ada kecurigaan lesi struktural atau penyakit neurologis yang tidak tampak pada CT scan.
Pungsi lumbal dilakukan bila terdapat kecurigaan meningitis atau ensefalitis setelah kontraindikasi seperti peningkatan tekanan intrakranial telah disingkirkan. Elektroensefalografi (EEG) bermanfaat apabila dicurigai ada kejang nonkonvulsif, ensefalopati, atau epilepsi lobus temporal.
Pemeriksaan toksikologi urin atau serum serta kadar alkohol darah diperlukan bila terdapat kecurigaan intoksikasi atau withdrawal zat. Meski demikian, hasil pemeriksaan toksikologi perlu diinterpretasikan dengan hati-hati karena banyak obat yang bisa menyebabkan halusinasi tidak dimasukkan dalam uji toksikologi (biasanya hanya mencakup zat NAPZA seperti opioid, amfetamin, dan kokain).
Selain itu, hasil positif uji toksikologi belum tentu berarti halusinasi disebabkan zat tersebut, karena bisa saja pemakaian zat tidak akut melainkan dilakukan beberapa hari atau minggu sebelumnya.[1-5,9,15]
Perhatian Khusus dalam Evaluasi Halusinasi
Interpretasi hasil evaluasi perlu selalu mempertimbangkan konteks klinis. Halusinasi dengan onset akut yang disertai gangguan atensi, fluktuasi kesadaran, demam, kejang, defisit neurologis fokal, atau instabilitas hemodinamik harus dianggap sebagai manifestasi penyakit medis terlebih dulu hingga terbukti sebaliknya. Jika halusinasi berkaitan dengan penyakit medis, maka tata laksana penyebab yang mendasari umumnya akan menghilangkan halusinasi.
Sebaliknya, pasien dengan halusinasi kronis, tingkat kesadaran dan fungsi neurologis yang normal, tanpa kelainan laboratorium maupun pencetus medis yang jelas, lebih mengarah pada gangguan psikotik primer, tentunya tetap dengan melakukan eksklusi terhadap penyebab organik secara memadai.[1-5,16,17]
Kesimpulan
Halusinasi tidak boleh langsung dianggap sebagai manifestasi gangguan psikiatri karena dapat menjadi gejala berbagai penyakit medis yang memerlukan penanganan segera, seperti infeksi saraf pusat, gangguan metabolik, intoksikasi obat, maupun kelainan neurologis.
Evaluasi klinis diawali dengan menilai stabilitas jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi, kemudian menentukan apakah pasien mengalami delirium melalui penilaian tingkat kesadaran, atensi, orientasi, dan tanda vital. Anamnesis harus difokuskan pada awitan dan progresivitas gejala, jenis halusinasi, riwayat penyakit neurologis atau psikiatri, penggunaan obat dan zat psikoaktif, serta adanya trauma kepala atau penyakit sistemik.
Halusinasi dengan onset akut yang disertai penurunan kesadaran, demam, kejang, defisit neurologis fokal, atau instabilitas hemodinamik lebih mengarah pada penyebab organik, sedangkan halusinasi kronis dengan kesadaran dan pemeriksaan neurologis yang normal lebih konsisten dengan gangguan psikotik primer setelah penyebab medis disingkirkan.
Pemeriksaan penunjang dipilih berdasarkan temuan klinis, meliputi pemeriksaan laboratorium dasar untuk mendeteksi gangguan metabolik dan infeksi, pemeriksaan toksikologi bila dicurigai intoksikasi, CT scan kepala pada pasien dengan trauma atau defisit neurologis fokal, MRI bila dicurigai lesi struktural, pungsi lumbal pada dugaan meningitis atau ensefalitis, serta EEG bila dicurigai kejang nonkonvulsif atau epilepsi lobus temporal.
