Indikasi dan Dosis Ketotifen
Indikasi penggunaan ketotifen adalah untuk menangani gejala alergi, seperti konjungtivitis alergi, serta dapat digunakan sebagai profilaksis asma bronkial. Meski begitu, penggunaan antihistamin pada asma tidak didukung oleh pedoman klinis yang ada. Rentang dosis ketotifen adalah 1-2 mg.[1,2,8]
Konjungtivitis Alergi
Ketotifen digunakan untuk mengatasi rasa gatal pada mata akibat konjungtivitis alergi. Dosis ketotifen sediaan larutan tetes mata 0,025% atau 0,25 mg/ml pada pasien dewasa dan anak-anak usia ≥3 tahun adalah 1 tetes pada mata yang sakit sebanyak 2 kali sehari.[1,2,9,10]
Dosis ketotifen sediaan oral pada dewasa yang direkomendasikan adalah 1 mg sebanyak 2 kali sehari. Jika diperlukan, dosis dapat ditingkatkan menjadi 2 mg sebanyak 2 kali sehari. Sebagai alternatif, penggunaan ketotifen dapat dimulai dengan dosis 0,5-1 mg pada malam hari selama beberapa hari pertama terapi untuk meminimalkan efek samping mengantuk.[1]
Rinitis Alergi
Ketotifen diindikasikan untuk tata laksana rinitis alergi, seperti bersin-bersin, pilek atau hidung tersumbat. Dosis ketotifen sediaan oral pada dewasa yang direkomendasikan adalah 1 mg sebanyak 2 kali sehari. Jika diperlukan, dosis dapat ditingkatkan menjadi 2 mg sebanyak 2 kali sehari.
Dosis ketotifen sediaan oral untuk anak-anak usia ≥3 tahun adalah 1 mg sebanyak 2 kali sehari. Efikasi dan keamanan penggunaan ketotifen pada anak-anak usia di bawah 3 tahun belum ditetapkan.[1]
Asma Bronkial (Off Label)
Ketotifen bekerja sebagai penstabil sel mast yang mencegah pelepasan mediator inflamasi (histamin) sehingga dapat digunakan sebagai profilaksis terhadap asma bronkial. Beberapa peran ketotifen pada asma, antara lain mengurangi frekuensi serangan, mengurangi keparahan gejala, menurunkan durasi serangan, serta mengurangi kebutuhan akan obat asma lain. Meski demikian, penggunaan ketotifen ini tidak didukung pedoman klinis.[1,8,11,12]
Rekomendasi dosis ketotifen sediaan oral pada dewasa dan anak-anak usia ≥3 tahun adalah 1 mg sebanyak 2 kali sehari. Sebagai alternatif, penggunaan ketotifen dapat dimulai dengan dosis 0,5 mg pada malam hari selama beberapa hari pertama terapi untuk meminimalkan efek samping mengantuk.[1,11,12]
Penggunaan pada Populasi Khusus
Penggunaan ketotifen memerlukan penyesuaian dosis pada populasi tertentu, seperti lansia, sensitif terhadap sedasi, serta gangguan hepar atau renal.
Lansia (Usia >65 Tahun)
Secara umum, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa lansia memerlukan dosis yang berbeda dari populasi dewasa muda. Namun, karena populasi lansia cenderung lebih sensitif terhadap efek samping seperti kantuk atau pusing, sehingga dosis dapat dimulai dengan dosis terendah yang efektif.[1]
Populasi yang Sensitif Terhadap Sedasi
Beberapa individu sangat mudah mengantuk setelah konsumsi obat golongan antihistamin, maka dapat dilakukan penyesuaian dosis dengan dosis awal 0,5 mg sampai 1 mg hanya pada malam hari selama beberapa hari pertama sebelum meningkatkan dosis secara bertahap hingga mencapai dosis terapi penuh.[1]
Gangguan Renal atau Hepar
Berdasarkan farmakokinetiknya, ketotifen dimetabolisme di hepar, sehingga klirens obat ketotifen mungkin berkurang pada populasi dengan gangguan hepar berat. Belum ada studi klinis yang spesifik, namun pengawasan sangat diperlukan.[1,3]
Selain itu, sekitar 60–70% dari obat ketotifen dikeluarkan melalui urin. Meskipun belum terdapat panduan penyesuaian dosis, akumulasi zat sisa (metabolit) mungkin terjadi pada pasien dengan gangguan renal, sehingga pengawasan juga diperlukan.[1,3]