Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Ketotifen
Penggunaan ketotifen pada kehamilan kurang dianjurkan karena obat ini masuk dalam kategori C oleh FDA dan B1 oleh TGA. Pada ibu menyusui, ketotifen dikeluarkan ke ASI menurut studi pada hewan, sehingga penggunaan pada ibu menyusui perlu berhati-hati.[1,2,7,9,10,13,14]
Penggunaan pada Kehamilan
Berdasarkan kategori FDA, penggunaan ketotifen dalam kehamilan masuk dalam kategori C. Hal ini berarti studi pada hewan mengonfirmasi adanya efek teratogenik, meskipun belum terdapat bukti serupa pada penelitian di manusia.[1,2]
Berdasarkan kategori TGA, penggunaan ketotifen dalam kehamilan masuk dalam kategori B1. Kategori ini membawahi obat-obatan yang hanya dikonsumsi oleh sejumlah kecil wanita hamil dan wanita usia subur, tanpa teramati adanya peningkatan frekuensi malformasi atau efek merugikan langsung atau tidak langsung lainnya pada janin manusia.[7]
Studi pada hewan telah mengungkapkan bukti kematian pra- dan pascanatal, termasuk sedikit penurunan terhadap pertambahan berat badan dalam 4 hari pertama setelah kelahiran ketika dosis oral 50 mg/kgBB/hari yang toksik bagi ibu diberikan. Meski begitu, belum ada data terkontrol pada manusia.
Lebih lanjut lagi, terdapat bukti penurunan kesuburan pria ketika tikus jantan diberikan dosis harian ketotifen ≥ 2 mg/kgBB/hari.[1,9,10,14]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Secara klinis, ketotifen dipakai untuk meredakan gejala alergi, seperti pada konjungtivitis alergi. Studi pada hewan telah mengungkapkan ekskresi obat ketotifen ke dalam ASI setelah pemberian oral, namun tidak diketahui apakah pemberian tetes mata ketotifen juga akan diekskresikan ke dalam ASI. Secara umum, penyerapan obat ketotifen dari mata terbatas, sehingga diperkirakan tidak akan menyebabkan efek samping pada bayi yang disusui.
Meski demikian, untuk mengurangi jumlah obat yang mencapai ASI setelah menggunakan tetes mata, dapat diberikan tekanan pada saluran air mata di sudut mata selama ≥1 menit dan bersihkan larutan yang berlebih. Manfaat perkembangan dan kesehatan dari menyusui harus dipertimbangkan bersama dengan kebutuhan klinis ibu dan potensi efek samping pada bayi yang disusui.[1,2,13,14]