Persalinan dengan sectio caesarea (SC) atau operasi sesar sering dikaitkan dengan prevalensi alergi yang lebih tinggi pada anak yang dilahirkan. Peningkatan prevalensi ini diduga terjadi karena bayi tidak terpapar mikroflora vagina ibu saat persalinan pervaginam sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam perkembangan sistem imunnya.[1,2]
Akan tetapi, penelitian mengenai hubungan cara persalinan dengan prevalensi alergi pada anak hingga saat ini sebenarnya masih memberikan hasil kontroversial.[1,2]
Hubungan Persalinan Pervaginam dengan Sistem Imun Anak
Berbeda dengan persalinan melalui sectio caesarea, saat persalinan pervaginam terjadi paparan mikroflora vagina ibu kepada bayi yang akan menjadi sumber penting untuk kolonisasi bakteri usus bayi. Dari bukti-bukti yang dikumpulkan, bakteri usus memegang peranan penting dalam perkembangan sistem imun bayi yang normal.[3]
Pada saat persalinan kontraksi rahim juga merangsang pengeluaran sitokin seperti interleukin (IL)-1β, IL-6, IL-8, dan tumor necrosis factor-α (TNF-α). Peningkatan sitokin-sitokin ini akan menstimulasi sintesis prostaglandin. Produksi sitokin proinflamasi ini berperan pada aktivasi sistem imun bayi selama persalinan yang akan meningkatkan sirkulasi neutrofil, monosit, dan sel natural killer.
Proses ini juga akan menekan sirkulasi limfosit T dan T helper yang berperan pada proses alergi. Pada sectio caesarea yang belum memasuki proses persalinan (belum terjadi pembukaan), tidak terjadi mekanisme ini.[4]
Hubungan Sectio Caesarea dengan Prevalensi Alergi Anak
Berdasarkan hipotesis, paparan terhadap mikroflora vagina akan memengaruhi perkembangan mikroba usus bayi dan sistem imunnya. Berbagai studi telah dilakukan untuk mempelajari pengaruh SC terhadap prevalensi alergi pada anak. Studi-studi ini mempelajari pengaruh SC pada alergi makanan, asma, rhinitis alergi, dan dermatitis atopik anak. Namun, hasil yang dilaporkan hingga saat ini masih bersifat kontroversial.
Studi yang Mendukung Hipotesis
Studi kohort berskala nasional di Swedia dilakukan terhadap 1.086.378 anak yang lahir pada tahun 2001–2012, dengan menggunakan data yang dicatat secara prospektif dari berbagai register layanan kesehatan. Studi ini menunjukkan bahwa prevalensi alergi makanan meningkat pada anak-anak yang dilahirkan dengan SC, baik emergency maupun elektif.[7]
Studi kohort prospektif KOALA melibatkan 2.733 anak dan mengikuti manifestasi atopi sejak lahir hingga usia 7 tahun; sampel feses pada usia 1 bulan tersedia dari 1.176 bayi. Studi ini dilakukan di negara Belanda dan menemukan bahwa bayi yang lahir melalui SC mengalami perubahan komposisi mikrobiota gastrointestinal, termasuk kolonisasi Clostridium difficile yang berhubungan dengan peningkatan risiko wheezing, eksem, dan asma pada masa kanak-kanak. [6]
Publikasi terbaru adalah meta analisis tahun 2024 yang melibatkan 113 studi observasional, dengan 70 studi memiliki risiko bias rendah. Studi ini melaporkan bahwa persalinan dengan SC berhubungan dengan peningkatan risiko asma (OR 1,20; 95% CI 1,16–1,25), rinitis atau konjungtivitis alergi (OR 1,15; 95% CI 1,09–1,22), dermatitis atopik atau eksem (OR 1,08; 95% CI 1,04–1,13), alergi makanan (OR 1,35; 95% CI 1,18–1,54), dan sensitisasi alergi (OR 1,19; 95% CI 1,10–1,28) jika dibandingkan dengan persalinan pervaginam.[5]
Analisis sensitivitas yang hanya memasukkan studi dengan risiko bias rendah maupun studi prospektif secara umum memberikan hasil yang konsisten.[5]
Studi yang Tidak Mendukung Hipotesis
Berbeda dengan sebagian besar studi di Eropa dan Amerika, studi yang dilakukan di Asia memberikan hasil yang berbeda. Studi kohort yang dilakukan di Korea misalnya, membuktikan bahwa tidak ada peningkatan prevalensi alergi pada anak yang dilahirkan dengan SC. Studi ini juga menyatakan bahwa meskipun mikroba dalam usus bayi dapat berbeda signifikan saat perinatal, dalam waktu sekitar 6 minggu populasi mikroba antar bayi akan menjadi serupa. [2]
Studi kohort di Singapura juga menyatakan hal yang sama yaitu sectio caesarea tidak meningkatkan prevalensi alergi hingga anak berusia 5 tahun. Studi ini menyatakan bahwa perbedaan hasil yang kontroversial antar studi mungkin disebabkan oleh faktor perancu yang lain seperti diet ibu, ukuran populasi, metodologi studi, dan lama waktu follow up studi.[9]
Studi kohort longitudinal pada tahun 2025 dari Jepang juga tidak menemukan hubungan yang jelas antara SC dan penyakit alergi pada anak. Studi ini melibatkan 2.114 anak dan menilai luaran dermatitis atopik, alergi makanan, asma bronkial, dan allergic rhinoconjunctivitis hingga usia 9 tahun.[10]
Setelah dilakukan penyesuaian terhadap berbagai faktor anak dan orang tua, analisis longitudinal tidak menunjukkan peningkatan risiko dermatitis atopik, alergi makanan, asma bronkial, maupun allergic rhinoconjunctivitis pada anak yang lahir melalui SC.[10]
Kesimpulan
Paparan mikroflora vagina ibu pada bayi saat persalinan pervaginam dikaitkan dengan perkembangan sistem imun bayi yang normal dan penurunan risiko alergi. Hal ini menyebabkan sectio caesarea (SC) dikaitkan dengan prevalensi alergi yang lebih tinggi pada anak-anak. Namun, hasil penelitian saat ini masih kontroversial.
Meta-analisis terbaru tahun 2024 menunjukkan adanya peningkatan risiko beberapa luaran alergi pada anak yang lahir melalui SC dibandingkan persalinan pervaginam. Namun, beberapa studi kohort di Asia, termasuk penelitian di Korea, Singapura, dan Jepang, tidak menemukan hubungan yang jelas antara SC dan prevalensi penyakit alergi pada anak. Dengan demikian, berdasarkan bukti yang tersedia, hubungan antara metode persalinan dengan prevalensi alergi pada anak masih belum konsisten.
