Patofisiologi Syringoma
Patofisiologi syringoma diduga dimulai sebagai reaksi inflamasi ekrin primer, meskipun hal ini belum terbukti. Syringoma pada dasarnya adalah tumor jinak, meskipun ada varian ganasnya, yang disebut syringokarsinoma, kasus ini sangat jarang terjadi. Histogenesis syringoma kemungkinan besar terkait dengan elemen ekrin atau sel punca multipoten.[2]
Beberapa peneliti berpendapat bahwa syringoma tipe eruptif mungkin lebih merupakan respons hiperplasia saluran keringat akibat peradangan, bukan tumor kelenjar sejati. Begitu pula syringoma yang ditemukan di kulit kepala pada pasien alopesia sikatrikal sebenarnya adalah pertumbuhan berlebih sebagai reaksi terhadap jaringan parut.[4]
Peran Sistem Imun
Penelitian menunjukkan bahwa sel mast yang berperan penting dalam kondisi seperti rosacea, ditemukan dalam jumlah berlimpah pada syringoma. Keberhasilan penggunaan modulator sel mast, seperti adelmidrol topikal dan tranilast oral, semakin menguatkan peran sel mast dalam patogenesis. Hubungan antara sel mast dan fibrosis stroma, yang merupakan ciri khas syringoma, masih belum diteliti.[5]
Karakteristik Mikroskopik dan Peran Gen
Jika dilihat dengan mikroskop elektron, sel-sel saluran pada syringoma memiliki mikrovili pendek yang banyak, desmosome, tonofilamen di bagian dalam saluran, dan lisosom. Pola ekspresi sitokeratin menunjukkan bahwa syringoma cenderung berkembang menyerupai bagian saluran keringat di lapisan atas dermis dan bagian bawah lapisan epidermis (disebut puncak saluran keringat).[4]
Dengan pemeriksaan enzim imunohistokimia, ditemukan adanya enzim khas kelenjar ekrin, seperti leucine aminopeptidase, suksinat dehidrogenase, dan fosforilase. Temuan molekuler menunjukkan bahwa syringoma dapat diwariskan secara autosomal dominan dengan lokus pada kromosom 16q22. Syringoma menunjukkan positivitas terhadap antigen karsinoembrionik (CEA), antigen membran epitel (EMA), dan CK5.[3]
Peran Hormon
Diduga bahwa syringoma dipengaruhi oleh estrogen atau progesteron, karena lebih sering terlihat pada wanita dan memburuk selama kehamilan dan menstruasi. Menurut Wallace dan Smoller, delapan dari sembilan kasus syringoma menunjukkan hasil positif kuat pada inti dan sitoplasma terhadap reseptor progesteron.[3]
Klasifikasi Syringoma
Klasifikasi syringoma yang diusulkan oleh Friedman dan Butler adalah bentuk lokalisata, bentuk yang terkait dengan sindrom Down, bentuk generalisata yang mencakup syringoma multipel dan eruptif, dan bentuk familial. Bentuk langka lainnya seperti syringoma tipe plak, linear, dan mirip milia juga telah dilaporkan.[2-4,6]
Syringoma Lokal
Tipe lokal adalah yang paling umum, yang dikenal sebagai papula simetris di sekitar mata. Baik syringoma lokal dan eruptif umumnya sporadis, namun bentuk familial telah dilaporkan.[2-4,7]
Syringoma Generalisata (Eruptif)
Syringoma eruptif adalah varian syringoma langka yang muncul dalam jumlah banyak sebagai papula multipel berwarna seperti kulit atau sedikit berpigmen di dada anterior, leher, perut bagian atas, ketiak, dan daerah periumbilikal (sekitar pusar) sebelum atau selama masa pubertas. Syringoma eruptif dilaporkan lebih banyak dijumpai pada pasien dengan sindrom Down dan Ehlers-Danlos.[8,9]
Kasus familial syringoma eruptif sangat jarang dan diwariskan secara autosomal dominan. Sementara kasus syringoma eruptif generalisata, yang merupakan perluasan lesi melibatkan wajah, batang tubuh, tungkai atas dan bawah, lebih jarang lagi dijumpai.[7,9]
Syringoma lokal dan eruptif memiliki beberapa perbedaan mendasar selain lokasi dan luasnya lesi. Dari segi warna, syringoma lokal biasanya berwarna seperti kulit atau kekuningan, sedangkan syringoma eruptif berwarna cokelat akibat peningkatan melanin di epidermis basal yang disertai pigmen pada beberapa kasus.[7]
Secara histologis, pada syringoma lokal, untaian epitel lebih dominan dibandingkan duktulus, sementara pada syringoma eruptif justru sebaliknya, yaitu duktulus lebih mendominasi.[7]
Syringoma Familial
Syringoma familial adalah syringoma yang terjadi dalam kelompok keluarga dan diduga diturunkan secara autosomal, kemungkinan terkait dengan hilangnya heterozigositas pada kromosom 16q22. Syringoma familial cenderung lebih sering terjadi di lokasi anatomis yang tidak biasa, termasuk vulva, leher, dan telapak tangan, dibandingkan dengan kasus nonfamilial.[10]
Tipe Lain Yang Lebih Jarang
Pada tahun 1972, Headington et al. untuk pertama kalinya mendeskripsikan varian sel jernih dari syringoma, yaitu tipe yang sangat langka yang secara histologis dibedakan oleh adanya sel epitel duktal dengan sitoplasma jernih. Clear cell syringoma ini diduga berkaitan dengan kondisi diabetes. Gangguan metabolisme glukosa diyakini menjadi faktor pendorong akumulasi sitoplasma jernih yang melimpah di dalam sel neoplastik.[11,12]
Pada diabetes, aktivitas fosforilase menurun di hepatosit selama konsentrasi glukosa darah tinggi, sehingga diduga proses serupa terjadi di dalam syringoma. Studi histokimia dan enzimatik telah menunjukkan peningkatan kandungan glikogen intraseluler akibat defisiensi fosforilase dalam glikogenesis pada syringoma sel jernih. Belum diketahui apakah perbaikan kontrol glikemik sistemik dapat menyebabkan perbaikan atau resolusi lesi ini.[12]