Penatalaksanaan Syringoma
Penatalaksanaan syringoma tidak diperlukan, tetapi intervensi umumnya dilakukan dengan alasan kosmetik atau untuk evaluasi histopatologi pada kasus yang menunjukkan kecurigaan ke arah keganasan. Tujuan terapi adalah menghancurkan tumor dengan mengupayakan jaringan parut minimal dan tanpa kekambuhan.[4]
Untuk syringoma lokal, terapi laser CO₂ dianggap sebagai pengobatan lini pertama, namun tetap membawa risiko kekambuhan lesi dan jaringan parut. Pada varian generalisata, efektivitas metode ini diragukan. Pilihan pengobatan topikal meliputi penggunaan tretinoin, adapalene, takalsitol, dan atropin 1%, terutama pada kasus yang disertai dengan pruritus.[20]
Terapi Topikal
Tretinoin topikal digunakan untuk mengobati syringoma, dan aplikasi topikal atropin digunakan untuk meredakan gatal. Aplikasi topikal adelmidrol dan kanabinoid semisintetik ditemukan bermanfaat pada kasus syringoma vulva raksasa. Obat ini diduga bekerja melalui down-regulasi aktivasi sel mast. Asam trikloroasetat dapat digunakan dengan cara yang mirip dengan chemical peel.[4]
Tretinoin Topikal
Tretinoin topikal dilaporkan memberikan respons baik pada satu pasien dengan syringoma eruptif. Obat ini umumnya diindikasikan untuk mengatasi acne vulgaris (jerawat) dan kerutan pada kulit. Mekanisme kerjanya meliputi penghambatan pembentukan mikrokomedo, penurunan daya rekat sel keratinosit di folikel kelenjar minyak sehingga memudahkan pengelupasan sel mati, serta memiliki sifat anti-inflamasi.[4,7]
Dalam penggunaannya secara topikal, pasien diinstruksikan untuk mengoleskan tretinoin sebesar kacang polong secara tipis pada area kulit yang diobati, diaplikasikan 20 menit setelah kulit dibersihkan dan dikeringkan sepenuhnya. Area bibir dan tepat di bawah mata harus dihindari, serta pasien perlu melindungi diri dari paparan sinar UV.[4]
Asam Trikloroasetat
Asam trikloroasetat topikal umumnya diindikasikan untuk mengatasi kondiloma (kutil kelamin). Mekanisme kerjanya bersifat keratolitik, yaitu menginduksi pengelupasan (deskuamasi) ketika diaplikasikan pada epitel yang mengalami penandukan (cornified epithelium). Efek ini membantu menghancurkan jaringan lesi secara bertahap.[4]
Atropin
Atropin topikal 1% dilaporkan dapat meredakan gejala gatal hebat dalam hitungan hari dan mengurangi ukuran lesi pada satu pasien.[7]
Terapi Oral
Terapi oral untuk syringoma dapat menggunakan isotretinoin oral dan asitretin. Isotretinoin oral memberikan hasil yang tidak konsisten, yaitu dua pasien menunjukkan respons memuaskan, sementara satu pasien lainnya tidak mendapat manfaat.[4,7]
Asitretin
Asitretin adalah analog asam retinoat yang umumnya diindikasikan untuk psoriasis dengan dosis 25-50 mg per oral sekali sehari. Selain itu, secara off-label asitretin juga digunakan untuk penyakit Darier, palmoplantar pustulosis, liken planus, dan sindrom Sjogren-Larsson.[4]
Mekanisme kerjanya sebagai analog asam retinoat, yang berperan mengatur proliferasi dan diferensiasi sel keratinosit, sehingga efektif mengurangi pembentukan plak psoriasis dan lesi kulit hiperkeratotik lainnya.[4]
Isotretinoin
Isotretinoin adalah obat retinoid yang umumnya diindikasikan untuk acne nodular berat pada pasien yang tidak hamil dan tidak responsif terhadap terapi konvensional, termasuk antibiotik sistemik. Mekanisme kerjanya adalah menghambat fungsi kelenjar sebasea (kelenjar minyak) dan keratinisasi.
Cara pemberian oral yaitu kapsul harus ditelan utuh dengan segelas air penuh untuk mengurangi iritasi esofagus. Konsumsi bersama makanan dapat meningkatkan absorpsi pada beberapa formulasi.[4]
Injeksi Intradermal
Injeksi intradermal toksin botulinum A sebagai terapi tunggal untuk syringoma dilaporkan berhasil pada beberapa kasus. Penggunaan agen ini dalam kombinasi dengan terapi laser erbium:yttrium-aluminum-garnet (Er:YAG) ditemukan efektif untuk mengobati syringoma lokal dalam sebuah studi.[4]
Mekanisme pasti bagaimana toksin botulinum A bekerja pada syringoma tidak diketahui. Meski demikian, diduga toksin botulinum A dapat menimbulkan blokade terminal kolinergik dengan menghambat SNAP-25 dari kompleks SNARE, sehingga menghambat pelepasan asetilkolin dari vesikel sitoplasma ujung saraf.
Hasilnya adalah kemodenervasi saraf kolinergik, sehingga menargetkan kontrol otonom kelenjar keringat ekrin. Mengingat syringoma adalah tumor yang berasal dari kelenjar ini, hal ini dapat menjelaskan hasil klinis yang diperoleh.[21,22]
Terapi Laser Fraksional Nonablatif
Studi kasus pada 8 pasien syringoma wajah menunjukkan bahwa terapi laser fraksional nonablatif 1550-nm efektif dan aman. Sebanyak 22 sesi dilakukan (rata-rata 2,75 sesi per pasien). Skor keparahan syringoma (PSSI) menurun signifikan dari 4,00 menjadi 2,88. Lima dari delapan pasien (62,5%) mencapai perbaikan sedang hingga nyata, dan korelasi positif kuat ditemukan antara jumlah sesi laser dengan tingkat perbaikan klinis.
Tidak ditemukan jaringan parut atau perubahan warna kulit pasca-terapi. Efek samping hanya berupa edema sementara yang sembuh rata-rata dalam 13,7 hari. Meski demikian, perlu dicatat bahwa studi ini memiliki sampel yang sangat kecil sehingga kualitas buktinya masih kurang baik.[23]
Laser CO2
Laser CO₂ adalah terapi laser ablasi yang paling banyak digunakan. Metode pinhole dan multiple drilling menggunakan laser CO₂ menghasilkan hasil kosmetik yang baik dengan efek samping minimal. Laser fraksional mengurangi waktu pemulihan dan komplikasi dibandingkan dengan laser nonfraksional. Laser fraksional nonablatif lebih menguntungkan dalam hal kemudahan operasi, efek samping minimal, dan masa pemulihan dibandingkan dengan laser ablasi.[24]
Laser CO₂ sering disertai dengan efek samping seperti jaringan parut dan perubahan warna kulit. Studi klinis sebelumnya yang mengevaluasi laser CO₂ mengungkapkan bahwa pendekatan ablasi fraksional mengakibatkan eritema pascaperawatan rata-rata selama 16,67 hari, krusta rata-rata selama 5,87 hari, dan hiperpigmentasi pada 14,3% pasien. [22]
Erbium Yttrium Aluminium Garnet (Er:YAG) Laser
Laser Er:YAG digunakan untuk mengobati nevus epidermal dan xanthoma, serta untuk menghilangkan tato, dengan laporan hasil yang positif. Penggunaannya dalam pengobatan syringoma juga telah dilaporkan.[25]
Kerusakan termal setelah perawatan Er:YAG terbatas pada lapisan yang sangat tipis yaitu dengan ketebalan hanya 10–15% dari ketebalan kerusakan yang disebabkan oleh laser CO₂. Oleh karena itu, dibandingkan dengan modalitas lain, pengangkatan syringoma yang sangat presisi dan tanpa merusak lapisan yang lebih dalam dianggap mungkin dilakukan dengan menggunakan laser Er:YAG.[25]