Pendahuluan Mesenteric Adenitis
Mesenteric adenitis atau mesenteric lymphadenitis, disebut juga adenitis mesenterika, adalah peradangan di perut yang ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening di mesenterium. Secara klinis, gejala yang ditimbulkan berupa nyeri abdomen di kuadran kanan bawah sehingga menyerupai apendisitis akut.
Berbeda dengan apendisitis akut, mesenteric adenitis umumnya bersifat self-limiting dan tidak memerlukan tindakan pembedahan. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada anak-anak dan remaja.[1-3]
Mesenteric adenitis sering berhubungan dengan infeksi. Infeksi virus merupakan etiologi yang paling sering dilaporkan, sedangkan bakteri seperti Yersinia enterocolitica juga pernah dilaporkan menjadi etiologi.[1–4]
Secara patofisiologi, mesenteric adenitis terjadi ketika antigen atau mikroorganisme dari saluran cerna masuk dan mencapai kelenjar getah bening mesenterika, sehingga memicu respons imun lokal berupa aktivasi sel imun dan pelepasan mediator inflamasi. Proses ini menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening dan nyeri abdomen, yang sering berlokasi di kuadran kanan bawah dan dapat menyerupai apendisitis akut.[1,4]
Diagnosis mesenteric adenitis ditegakkan melalui evaluasi klinis dan hasil pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis biasanya ditemukan nyeri perut terutama di kuadran kanan bawah atau daerah sekitar pusar yang dapat disertai demam ringan, mual, muntah, atau diare. Keluhan ini sering didahului oleh infeksi saluran napas atas atau gastroenteritis.[1,4]
Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan nyeri tekan di kuadran kanan bawah abdomen tanpa tanda iritasi peritoneal seperti rebound tenderness atau guarding yang jelas. Pemeriksaan laboratorium dapat menunjukkan leukositosis ringan. Pemeriksaan pencitraan seperti ultrasonografi atau CT scan menunjukkan pembesaran kelenjar getah bening mesenterika dengan apendiks yang tampak normal.[4–6]
Tata laksana mesenteric adenitis bersifat konservatif karena sebagian besar kasus bersifat self-limiting. Terapi difokuskan pada perawatan suportif berupa istirahat, hidrasi adekuat, serta pemberian analgesik. Pemberian antibiotik hanya dipertimbangkan pada kasus dengan kecurigaan infeksi bakteri atau gejala yang lebih berat, terutama infeksi enterik seperti Yersinia enterocolitica.[1,4,7]
Perawatan di rumah sakit dipertimbangkan pada pasien dengan dehidrasi, nyeri tidak terkontrol, atau bila diagnosis masih memerlukan observasi lebih lanjut untuk menyingkirkan penyebab akut abdomen lain. Tindakan pembedahan tidak diindikasikan kecuali ditemukan penyebab lain yang memerlukan intervensi bedah.[1,4,7]
