Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Diagnosis Perdarahan Postpartum general_alomedika 2026-08-13T13:23:46+07:00 2026-08-13T13:23:46+07:00
Perdarahan Postpartum
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Diagnosis Perdarahan Postpartum

Oleh :
dr. Novita
Share To Social Media:

Diagnosis perdarahan postpartum atau postpartum hemorrhage (PPH) ditegakkan bila kehilangan darah mencapai ≥500 mL setelah persalinan pervaginam atau ≥1000 mL setelah sectio caesarea, atau bila terdapat tanda instabilitas hemodinamik akibat perdarahan. Penilaian dilakukan melalui evaluasi jumlah perdarahan, pemeriksaan tanda vital, serta identifikasi penyebab menggunakan pendekatan 4T (tone, trauma, tissue, dan thrombin).[1-3,5]

Anamnesis

Pada anamnesis, pasien umumnya mengeluhkan perdarahan pervaginam yang berlebihan setelah persalinan, baik berupa aliran darah yang terus-menerus, keluarnya darah dalam jumlah besar secara tiba-tiba, maupun pengeluaran bekuan darah berukuran besar.

Pasien juga dapat melaporkan gejala yang berkaitan dengan kehilangan darah akut, seperti pusing, lemas, berdebar-debar, sesak napas, pandangan kabur, hingga penurunan kesadaran pada kasus yang berat. Informasi mengenai waktu mulai perdarahan, jumlah perdarahan yang diperkirakan, serta adanya nyeri perut atau nyeri pada daerah perineum perlu digali untuk membantu menentukan penyebab perdarahan.

Selain keluhan utama, anamnesis harus mencakup faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya PPH. Ini mencakup riwayat atonia uteri, perdarahan postpartum pada persalinan sebelumnya, kehamilan ganda, polihidramnion, makrosomia janin, persalinan lama atau sangat cepat, retensio plasenta, tindakan operatif obstetri, serta riwayat gangguan pembekuan darah.[1-3,5,7]

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada perdarahan postpartum terbagi menjadi dua, yakni pemeriksaan umum dan khusus/obstetri.

Pemeriksaan Fisik Umum

Pemeriksaan fisik secara umum meliputi pemeriksaan tingkat kesadaran, nadi, laju napas, tekanan darah, hidrasi kulit dan membran mukosa, capillary refill time (CRT), dan urine output. Pemeriksaan fisik secara umum penting dilakukan terutama untuk menilai derajat keparahan hipovolemik akibat perdarahan postpartum.[1-3,5,7]

Tabel 1. Tanda dan Gejala Sesuai Derajat Hipovolemik

Klasifikasi

Tanda Klinis

Ringan

Jumlah perdarahan 1000-1500 mL (10-15%)

Keadaan umum pasien tampak lemas

Tekanan darah sistolik 80‒100 mmHg

Takikardia ringan

Mottled skin

Akral atau ekstremitas dingin

CRT (capillary refill time) memanjang

Urine output menurun

Sedang

Jumlah perdarahan 1500-2000 mL (25-35%)

Keadaan umum pasien tampak gelisah

Tekanan darah sistolik 70‒80 mmHg

Takikardia >110 kali per menit

Laju napas >30 kali per menit

Kulit pucat (telapak tangan, mukosa bibir)

CRT memanjang

Urine output menurun (oliguria)

Berat

Jumlah perdarahan 2000-3000 mL (35-50%)

Keadaan umum pasien tampak agitasi atau bingung, terkadang tidak sadarkan diri

Tekanan darah sistolik 50‒70 mmHg

Anuria

Sumber: dr.Novita, Alomedika, 2019.[14]

Pemeriksaan Fisik Khusus

Pada pemeriksaan fisik khusus atau obstetri dicari tahu penyebab dari perdarahan. Pemeriksaan obstetri meliputi pemeriksaan kontraksi uterus, letak, konsistensi uterus, pemeriksaan dalam untuk menilai adanya perdarahan atau sumber perdarahan, melihat keutuhan plasenta, tali pusat, serta mencari apakah terdapat robekan pada jalan lahir. Berikut ini adalah tanda gejala sesuai penyebab perdarahan postpartum.[1-3,5,7]

Tabel 2. Tanda dan Gejala pada Perdarahan Postpartum

Penyebab

Tanda dan gejala

Atonia uteri

Perdarahan terjadi segera setelah anak lahir

Uterus tidak berkontraksi, konsistensi uterus lembek

Retensio plasenta

Plasenta tidak keluar 30 menit setelah bayi lahir

Sisa plasenta

Plasenta atau sebagian selaput tidak lengkap

Perdarahan dapat muncul 6-10 hari pasca persalinan disertai subinvolusi uterus

Robekan jalan lahir

Perdarahan mengalir segera setelah bayi lahir

Inversio uteri

Fundus uteri tidak teraba

Liang vagina terisi massa

Nyeri perut (ringan hingga berat)

Gangguan pembekuan darah

Perdarahan sulit dihentikan, darah cenderung encer dan tidak terdapat gumpalan darah

Kegagalan terbentuknya gumpalan darah muncul pada saat dilakukan uji pembekuan darah

Terdapat faktor predisposisi seperti solusio plasenta, intrauterine fetal death / IUFD, eklamsia, emboli air ketuban

Sumber: dr.Novita, Alomedika, 2019.[14]

Diagnosis Banding

Diagnosis banding pada perdarahan postpartum adalah berdasarkan etiologinya.

Atonia Uteri

Pada atonia uteri akan didapatkan tonus otot yang abnormal setelah plasenta lahir. Perabaan uterus terasa lembek.[3,7,8]

Retensio Plasenta

Pada retensio plasenta, plasenta tidak dapat dilahirkan bahkan 30 menit setelah bayi lahir. Kontraksi uterus bisa normal, bisa hipotonus.[3,7,9]

Sisa Plasenta

Sisa plasenta dapat terdeteksi segera setelah plasenta lahir dengan melihat kelengkapan plasenta, dan beberapa hari setelah lahir dimana didapatkan perdarahan terus menerus dan subinvolusi uterus.[3,7,9]

Robekan Jalan Lahir

Setelah bayi lahir, dapat terlihat adanya robekan pada perineum, cervix, atau vagina.[3,5,7]

Inversio Uteri

Setelah bayi dan plasenta lahir, saat dilakukan perabaan, tidak didapatkan fundus uteri. Massa uteri dapat terlihat pada liang vagina.[3,5,7]

Gangguan Pembekuan Darah

Penyebab ini cukup jarang didapatkan dan biasanya sudah terdeteksi saat dilakukan antenatal care, misalnya pada pasien HELLP (hemolysis, elevated liver enzyme, dan low platelet count). Ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium profil pembekuan darah, seperti bleeding time, clotting time, dan prothrombin time.[1-3,7]

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang pada perdarahan postpartum tidak selalu dilakukan, karena disesuaikan dengan jenis perdarahan serta onset kejadian. Namun berikut ini adalah pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan (terutama pada asuhan antenatal) untuk membantu dokter dalam mencari faktor risiko, mendiagnosis, serta menentukan penyebab perdarahan postpartum.[1-3,5,7]

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan darah rutin, utamanya pemeriksaan hemoglobin. Umumnya jika terjadi perdarahan masif dapat ditemukan hasil Hb kurang dari 8 g/dL. selain itu apabila pada saat asuhan antenatal ditemukan bahwa ibu mengalami anemia, maka keadaan ini dapat segera dikoreksi.

Pemeriksaan golongan darah juga dilakukan untuk kepentingan tata laksana bila pasien membutuhkan transfusi darah. Transfusi sebaiknya tidak ditunda dan tidak diputuskan berdasarkan kadar hemoglobin semata, tetapi sebaiknya dilakukan berdasarkan kondisi klinis pasien.

Pemeriksaan waktu perdarahan atau waktu pembekuan, trombosit, protrombin dan partial prothrombin time / PTT, untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan faktor pembekuan darah.

Pemeriksaan fibrinogen atau D-dimer dapat digunakan untuk membantu penegakan diagnosis disseminated intravascular coagulation (DIC).[3,7]

Ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan USG dilakukan untuk melihat apakah terdapat sisa plasenta ataupun gumpalan darah. Kemudian apabila dilakukan pada saat antenatal dapat membantu dokter mendeteksi plasenta previa dan plasenta akreta.[2,3,7]

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

1. Bienstock JL, Eke AC, Hueppchen NA. Postpartum Hemorrhage. N Engl J Med. 2021 Apr 29;384(17):1635-1645. doi: 10.1056/NEJMra1513247.
2. WHO. Consolidated guidelines for the prevention, diagnosis and treatment of postpartum haemorrhage. Geneva: World Health Organization; 2025. https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/88bf11a5-93b6-4d6b-bdaa-856b46c8ed3c/content
3. Wormer KC, Jamil RT, Bryant SB. Acute Postpartum Hemorrhage. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499988/
5. American Family Physician. Management of Postpartum Hemorrhage: Recommendations From FIGO. American Family Physician. 2023;107(4):438-440.
7. Pflugner L. Postpartum Hemorrhage. Medscape. 2025. https://emedicine.medscape.com/article/275038-overview
8. Gill P, Patel A, Van Hook JW. Uterine Atony. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK493238/
9. Tchuinte Lekuikeu LS, Moreland C. Retained Placenta and Postpartum Hemorrhage: A Case Report and Review of Literature. Cureus. 2022 Apr 22;14(4):e24389. doi: 10.7759/cureus.24389.
14. WHO recommendations for the prevention and treatment of postpartum hemorrhage. World Health Organization 2012. ISBN 978 92 4 154850 2.

Epidemiologi Perdarahan Postpartum
Penatalaksanaan Perdarahan Postp...

Artikel Terkait

  • Efektivitas dan Keamanan Asam Traneksamat Untuk Perdarahan Post Partum
    Efektivitas dan Keamanan Asam Traneksamat Untuk Perdarahan Post Partum
  • Oxytocin Intravena Vs Intramuskular sebagai Profilaksis Perdarahan Postpartum
    Oxytocin Intravena Vs Intramuskular sebagai Profilaksis Perdarahan Postpartum
  • Misoprostol Sublingual Preoperatif VS Post Operatif untuk Pencegahan Perdarahan Postpartum Sectio Caesarea – Telaah Jurnal Alomedika
    Misoprostol Sublingual Preoperatif VS Post Operatif untuk Pencegahan Perdarahan Postpartum Sectio Caesarea – Telaah Jurnal Alomedika
  • Skar Sectio Caesarea Berisiko Tinggi Menyebabkan Plasenta Akreta
    Skar Sectio Caesarea Berisiko Tinggi Menyebabkan Plasenta Akreta
  • Deteksi Dini dan Tata Laksana Perdarahan Postpartum – Telaah Jurnal Alomedika
    Deteksi Dini dan Tata Laksana Perdarahan Postpartum – Telaah Jurnal Alomedika

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
dr. Hudiyati Agustini
Dibalas 04 Agustus 2026, 14:06
🚨Ikuti e-Course & Dapatkan SKP Gratis "Perdarahan Pascapersalinan: Dari Evidence ke Praktik, Mengapa Masih Gagal"
Oleh: dr. Hudiyati Agustini
2 Balasan
ALO Dokter!🚨 Every Birth is at Risk! Don't Wait for Heavy Bleeding!Perdarahan pascapersalinan (PPH) masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu....
Anonymous
Dibalas 01 Februari 2024, 18:45
Perdarahan postpartum karena SC
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo dokter, sya punya pasien di PKM, pasien mengalami perdarahan hingga anemi dok. Riwayat sebulan lalu post SC. Setelahnya dirujuk ke RS untuk ditranfusi. 2...
Anonymous
Dibalas 22 November 2023, 15:36
Kapan harus merujuk pasien post HPP dengan Hb rendah?
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo dokter. Izin berdiskusi..Bila hemoragic post partum sudah teratasi, keluhan pasien tidak ada, pusing (-), lemas (-), pengeluaran darah sudah normal...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.