Penatalaksanaan Influenza
Penatalaksanaan influenza pada pasien imunokompeten tanpa faktor risiko komplikasi umumnya bersifat suportif karena penyakit ini bersifat swasirna (self-limiting). Terapi mencakup istirahat, hidrasi adekuat, serta antipiretik untuk meredakan gejala. Pemberian antivirus tidak direkomendasikan secara rutin pada kasus flu ringan populasi umum, namun diprioritaskan untuk pasien rawat inap, kasus berat, atau kelompok berisiko tinggi komplikasi.[1]
Pemberian antivirus belum terbukti memiliki manfaat bermakna dalam penanganan influenza. Terdapat studi yang menunjukkan bahwa pemberian antivirus tidak mengurangi angka rawat inap maupun mengurangi gejala influenza secara signifikan.[4,5,14]
Terapi Suportif
Penanganan awal yang dapat diberikan adalah menganjurkan istirahat dan menghindari kontak dengan orang lain. Minta pasien mencukupi kebutuhan cairan dengan banyak minum. Antipiretik, seperti paracetamol atau ibuprofen, dapat diberikan untuk mengurangi gejala.[2]
Pada pasien yang tidak termasuk risiko tinggi dan hanya mengalami influenza ringan, tidak ada bukti bahwa pemberian antivirus bermanfaat. Pemberian antivirus dapat dipertimbangkan pada pasien berisiko tinggi mengalami komplikasi dalam 24 jam pertama setelah awitan.[15]
Pemberian Antivirus
Indikasi utama pemberian antivirus (seperti oseltamivir oral atau zanamivir inhalasi) ditujukan untuk pasien dengan influenza derajat sedang dan berat, pasien yang dirawat di rumah sakit, atau kelompok berisiko tinggi mengalami komplikasi. Pada kasus rawat jalan tanpa komplikasi, pemberian antivirus hanya memberikan pengurangan durasi gejala yang singkat dan tidak direkomendasikan secara rutin. Inisiasi terapi idealnya dimulai dalam 48 jam pertama sejak awitan gejala, tetapi pada pasien rawat inap/kasus berat, terapi tetap memberikan manfaat meskipun diberikan >48 jam. [4,5,22]
Jenis Antivirus
Pasien influenza yang memerlukan antivirus bisa menggunakan golongan neuraminidase inhibitors (NAIs) seperti oseltamivir oral dan zanamivir inhalasi. Pilihan lain adalah golongan cap-dependent endonuclease inhibitor seperti baloxavir, dan golongan adamantane seperti amantadine dan rimantadine.
NAIs dan baloxavir telah dilaporkan efektif untuk infeksi influenza tipe A dan B. Adamantane hanya efektif terhadap infeksi virus influenza tipe A saja dan saat ini tidak dianjurkan untuk diberikan dalam skenario klinis karena meningkatnya penyebaran strain virus influenza tipe A yang resisten adamantane.[14,17]
Tabel 1. Dosis Antivirus untuk Influenza
| Jenis obat | Terapi | Kemoprofilaksis | Efek Samping Umum | ||
| Dosis | Durasi | Dosis | Durasi pasca paparan terakhir | ||
| Oseltamivir | |||||
| Dewasa | 75 mg, 2 kali sehari | 5 hari | 75 mg, 1 kali sehari | 7 hari |
Mual Muntah Nyeri kepala Reaksi kulit Diare
|
|
Anak ≥12 bulan
|
|||||
| ≤15 kg | 30 mg, 2 kali sehari | 5 hari | 30 mg, 1 kali sehari | 7 hari | |
| >15 kg hingga 23 kg | 45 mg, 2 kali sehari | 5 hari | 45 mg, 1 kali sehari | 7 hari | |
| >23 kg hingga 40 kg | 60 mg, 2 kali sehari | 5 hari | 60 mg, 1 kali sehari | 7 hari | |
| >40 kg | 75 mg, 2 kali sehari | 5 hari | 75 mg, sekali sehari | 7 hari | |
| Bayi aterm 9-11 bulan | |||||
| 3,5 mg/kg/dosis, 2 kali sehari | 5 hari | 3,5 mg/kg/dosis, sekali sehari | 7 hari | ||
| Bayi aterm 0-8 bulan | |||||
| 3 mg/kg/dosis, 2 kali sehari | 5 hari | Keamanan dan efikasi belum terbukti pada usia <1 tahun | 7 hari | ||
| Zanamivir | |||||
| Dewasa | 10 mg inhalasi, 2 kali sehari | 5 hari | 10 mg inhalasi, sekali sehari | 7 hari |
Bronkospasme Reaksi kulit Sinusitis Pusing |
| Anak | ≥7 tahun: 10 mg inhalasi, 2 kali sehari | 5 hari | ≥5 tahun: 10 mg inhalasi, sekali sehari | 7 hari | |
Sumber: dr. Reren, Alomedika, 2023.[2,3]
Indikasi Rujuk
Beberapa tanda bahaya yang perlu diperhatikan pada pasien dewasa adalah:
- Terlihat sesak atau napas menjadi semakin cepat
- Nyeri atau terasa berat pada bagian dada atau abdomen
- Muntah yang hebat atau terus-menerus
- Gejala influenza yang dialami berkurang atau membaik, namun muncul kembali dengan demam dan batuk yang lebih hebat.[15]
Beberapa tanda bahaya tambahan untuk anak adalah:
- Ada tanda sianosis
- Kesadaran menurun atau kurang bisa diajak untuk berkomunikasi dan berinteraksi
- Demam disertai dengan ruam.[2,3]
Kriteria Rawat Inap
Pasien dengan influenza harus dirawat inap jika terdapat komplikasi influenza atau pasien mengalami penyakit serius lain selain influenza, termasuk pneumonia dan diabetes. Pasien juga perlu dirawat jika masih memiliki kemungkinan diagnosis banding lain yang serius, misalnya malaria dan meningitis. Anak berusia di bawah 1 tahun dan memiliki risiko komplikasi, misalnya ada penyakit jantung bawaan, juga sebaiknya dirawat.[16]
Direvisi oleh: dr Nurh Syada