Efek Samping dan Interaksi Obat Lopinavir
Efek samping pemberian lopinavir yang tersering adalah diare, mual, muntah, hipertrigliseridemia, dan hiperkolesterolemia. Lopinavir/ritonavir memiliki interaksi dengan obat-obatan yang berhubungan dengan metabolisme oleh CYP3A, seperti itraconazole dan carbamazepine.[3,11]
Efek Samping
Terdapat berbagai efek samping penggunaan lopinavir, yaitu gangguan sistem gastrointestinal, kelainan kadar lipid dalam darah, pankreatitis, hepatotoksisitas, dan kelainan gambaran EKG.[3,11]
Sistem Gastrointestinal
Diare merupakan efek samping gastrointestinal yang paling sering muncul pada pasien yang mengonsumsi lopinavir/ritonavir. Selain diare, mual dan muntah juga merupakan efek samping yang sering terlihat. Tidak ada rekomendasi tertentu mengenai penghentian terapi pada pasien yang mengalami efek samping gastrointestinal.
Keputusan untuk menghentikan terapi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi klinis tiap pasien. Lopinavir/ritonavir ditoleransi dengan baik oleh pasien anak tetapi efek samping gastrointestinal seperti konstipasi dan muntah dapat tetap timbul.[3,11]
Efek pada Kadar Lipid
Kondisi dislipidemia seperti hipertrigliseridemia dan hiperkolesterolemia merupakan salah satu efek samping yang sering ditemukan akibat penggunaan lopinavir. Seperti halnya obat-obatan inhibitor protease lainnya, kombinasi lopinavir/ritonavir dengan obat-obatan NNRTI memiliki hubungan dengan risiko gangguan kardiovaskular.
Di samping itu, pemilihan obat untuk menurunkan kadar lipid harus dilakukan secara hati-hati, dengan cara menghindari obat-obatan yang berhubungan dengan metabolisme CYP3A dan menjadi kontraindikasi pemberian lopinavir, seperti simvastatin.[3,11]
Pankreatitis
Pankreatitis terkait penggunaan lopinavir/ritonavir dapat mengakibatkan kematian. Pasien yang mengalami peningkatan kadar trigliserida secara signifikan setelah pemberian lopinavir/ritonavir memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami pankreatitis, tetapi tidak semua pasien dengan pankreatitis mengalami peningkatan trigliserida.
Gejala klinis seperti mual, muntah, nyeri perut, atau abnormalitas hasil pemeriksaan laboratorium, seperti peningkatan serum lipase atau amilase harus dievaluasi untuk menyingkirkan kemungkinan pankreatitis. Pemberian lopinavir/ritonavir dan obat-obatan antiretroviral lainnya harus dihentikan selama evaluasi.[3,11]
Hepatotoksisitas
Gejala seperti kelelahan, kurang nafsu makan, mual dan muntah, serta tanda-tanda seperti ikterus dapat menimbulkan kecurigaan adanya hepatotoksisitas akibat penggunaan lopinavir. Pasien dengan hepatitis B atau hepatitis C, atau dengan peningkatan transaminase serum dapat mengalami dekompensasi akibat penggunaan lopinavir/ritonavir.[3,11]
Pemanjangan QT Interval dan PR Interval
Penggunaan lopinavir/ritonavir harus dihindari pada pasien dengan risiko/kondisi pemanjangan QT Interval atau hipokalemia. Pasien yang menggunakan obat yang memperpanjang interval QT juga jangan diberikan obat ini.
Penggunaan lopinavir/ritonavir pada pasien dengan gangguan anatomi jantung, penyakit sistem konduksi jantung, penyakit jantung iskemik, seperti infark miokard dan sindrom koroner akut, dan kardiomiopati, harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari morbiditas dan mortalitas terkait pemanjangan PR interval dan gangguan konduksi jantung.[3,11]
Interaksi Obat
Lopinavir/ritonavir dapat berinteraksi dengan obat-obatan dimetabolisme dengan CYP3A. Penggunaan bersamaan obat-obatan yang menginduksi CYP3A dapat menurunkan konsentrasi plasma lopinavir.
Ritonavir dapat meningkatkan konsentrasi plasma obat-obatan yang dimetabolisme oleh CYP3A. Selain itu, penggunaan lopinavir/ritonavir bersamaan efavirenz, nevirapine, atau nelfinavir, harus dilakukan secara hati-hati. Dosis lopinavir/ritonavir harus ditingkatkan jika diberikan bersamaan dengan ketiga obat tersebut.[3,11]
Tabel 1. Interaksi Obat Lopinavir
| Efek Interaksi | Obat-Obatan |
| Lopinavir meningkatkan efek obat lain | Antiretroviral (indinavir, nelfinavir, saquinavir, maraviroc, tenofovir) |
| Antiaritmia (amiodarone, bepridil, lidocaine sistemik, quinidine) | |
| Antikanker (vincristine, vinblastine, dasatinib, nilotinib) | |
| Antikoagulan (rivaroxaban) | |
| Antidepresan (trazodone) | |
| Antibiotik (clarithromycin) | |
| Antifungal (ketoconazole, itraconazole, isavuconazonium) | |
| Antigout (kolkisin) | |
| Antimikobakterial (bedaquiline, rifabutin) | |
| Antipsikotik (quetiapine, midazolam) | |
| Kortikosteroid (budesonide, dexamethasone, prednison, fluticasone) | |
| Antagonis kalsium (felodipin, nifedipine, nicardipine) | |
| Antagonis reseptor endotelin (bosentan) | |
| Antiviral hepatitis C (simeprevir, ombitsavir, parataprevir) | |
| HMG-CoA reductase inhibitor (atorvastatin, rosuvastatin) | |
| Imunosupresan (siklosporin, tacrolimus, sirolimus) | |
| Agonis beta-adrenoseptor (salmeterol) | |
| Analgesik (fentanil) | |
| Inhibitor PDE5 (avanafil, sildenafil, tadalafil, vardenafil) | |
| Lopinavir menurunkan efek obat lain | Antiretroviral (abacavir, zidovudin) |
| Antikonvulsan (phenytoin, lamotrigine, asam valproat) | |
| Antidepresan (bupropion) | |
| Antifungal (voriconazole) | |
| Antiparasit: atovaquone | |
| Antiviral hepatitis C (boceprevir) | |
| Analgesik (metadon) | |
| Kontrasepsi (etinil estradiol) | |
| Obat lain meningkatkan efek lopinavir | Ritonavir, Delavirdine |
| Obat lain menurunkan efek lopinavir | Antiretroviral: fosamprenavir/ritonavir, nelfinavir, tipranavir, efavirenz, nevirapine |
| Antikonvulsan: carbamazepine, phenobarbital, phenytoin | |
| Kortikosteroid: budesonide, dexamethasone, prednison | |
| Antiviral hepatitis C: boceprevir |
Sumber: Hudiyati, 2022.[3,11]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha