Indikasi dan Dosis Lopinavir
Indikasi lopinavir adalah untuk penanganan HIV, baik pada pasien dewasa maupun anak berusia >14 hari. Obat ini hanya tersedia dalam bentuk kombinasi dengan ritonavir. Dosis dewasa yang dianjurkan adalah 400-800 mg lopinavir dan 100-200 mg ritonavir, dua kali sehari. Dosis dipilih tergantung pada apakah pasien sudah mendapat terapi antiretroviral (ARV) sebelumnya.[1-3,11]
HIV
Lopinavir digunakan untuk terapi HIV, dalam regimen kombinasi dengan ARV lain. Obat ini bukan merupakan terapi lini pertama untuk HIV, melainkan hanya digunakan jika regimen lini pertama gagal atau tidak dapat digunakan.
Jika digunakan untuk terapi HIV, maka lopinavir-ritonavir (LPV/r) perlu dikombinasikan dengan dua obat dari golongan nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTI), seperti tenofovir disoproxil fumarate dan emtricitabine.[1,2]
Di Indonesia, pedoman Kementerian Kesehatan tahun 2019 juga masih menggunakan lopinavir untuk pencegahan transmisi pascapajanan (PPP). Untuk tujuan ini LPV/r dikombinasikan dengan tenofovir dan emtricitabine, atau dikombinasikan dengan zidovudine dan lamivudine.
Pedoman di Indonesia juga masih menganjurkan LPV/r dalam regimen terapi ARV untuk anak usia di bawah 3 tahun. Untuk tujuan ini, LPV/r dikombinasikan dengan abacavir atau zidovudine, plus emtricitabine.[13]
Dosis Dewasa
Dosis dewasa yang dianjurkan adalah 400 mg lopinavir dan 100 mg ritonavir, diberikan dua kali sehari.
Dosis alternatif 800 mg lopinavir dan 200 mg ritonavir, diberikan sekali sehari, juga bisa dilakukan, tetapi tidak direkomendasikan pada pasien dengan ≥3 mutasi virus yang terkait dengan resistensi lopinavir (misalnya L10F/I/R/V, K20M/N/R, L24I, L33F, dan M36I).
Pada pasien yang mendapat efavirenz, nelfinavir, atau nevirapine, maka dosis lopinavir yang dianjurkan adalah 500 mg dan ritonavir 125 mg, diberikan dua kali sehari.[3]
Dosis Anak
Pada pasien yang tidak mendapat efavirenz, nevirapine, atau nelfinavir dosis yang dianjurkan adalah:
- Usia 14 hari hingga 6 bulan: dosis 16 mg lopinavir/4 mg ritonavir per kgBB, diberikan dua kali sehari
- Usia >6 bulan hingga <18 tahun, dengan berat badan <15 kg: dosis 12 mg lopinavir/3 mg ritonavir per kgBB, diberikan dua kali sehari
- Usia >6 bulan hingga <18 tahun, dengan berat badan 15‒40 kg: dosis 10 mg lopinavir/2,5 ritonavir per kgBB, diberikan dua kali sehari.[3]
Kombinasi lopinavir dengan efavirenz, nevirapine, atau nelfinavir dapat diberikan pada anak usia >6 bulan. Jika lopinavir dikombinasikan dengan obat-obatan tersebut, maka dosis yang dianjurkan adalah:
- Berat badan >15 kg hingga 20 kg: tablet dosis 200 mg lopinavir dan 50 mg ritonavir, diberikan dua kali sehari
- Berat badan >20 kg hingga 30 kg: tablet dosis 300 mg lopinavir dan 75 mg ritonavir, diberikan dua kali sehari
- Berat badan >30 kg hingga 45 kg: tablet dosis 400 mg lopinavir dan 100 mg ritonavir, diberikan dua kali sehari.
- Berat badan >45 kg: tablet 500 mg lopinavir dan 125 mg ritonavir, diberikan dua kali sehari.[3]
Penyesuaian Dosis pada Penurunan Fungsi Ginjal dan Hepar
Pada pasien dengan insufisiensi hati, belum terdapat rekomendasi penyesuaian dosis lopinavir/ritonavir yang spesifik. Namun, obat ini harus digunakan dengan hati-hati karena lopinavir dimetabolisme hampir seluruhnya oleh hati melalui enzim CYP3A, sehingga gangguan fungsi hati dapat meningkatkan konsentrasi plasma obat dan risiko toksisitas.
Data farmakokinetik yang tersedia hanya terbatas pada pasien dengan gangguan hati ringan hingga sedang, sedangkan penggunaan pada pasien dengan gangguan hati berat belum dipelajari secara memadai. Oleh karena itu, pemantauan klinis dan fungsi hati secara berkala dianjurkan selama terapi, terutama pada pasien dengan penyakit hati kronis atau peningkatan enzim hati sebelumnya.
Pada pasien dengan insufisiensi ginjal, penyesuaian dosis umumnya tidak diperlukan karena eliminasi lopinavir melalui ginjal sangat kecil. Dengan demikian, gangguan fungsi ginjal diperkirakan tidak memberikan pengaruh bermakna terhadap paparan sistemik lopinavir.
Meski demikian, pada pasien usia lanjut atau pasien dengan gangguan fungsi organ multipel, pemilihan dosis tetap perlu dilakukan secara hati-hati mengingat kemungkinan adanya penurunan fungsi hati, ginjal, atau jantung yang berkaitan dengan usia serta penggunaan obat lain yang berpotensi menimbulkan interaksi.[3]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha