Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Indikasi dan Dosis Methadone general_alomedika 2026-09-18T14:35:20+07:00 2026-09-18T14:35:20+07:00
Methadone
  • Pendahuluan
  • Farmakologi
  • Formulasi
  • Indikasi dan Dosis
  • Efek Samping dan Interaksi Obat
  • Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui
  • Kontraindikasi dan Peringatan
  • Pengawasan Klinis

Indikasi dan Dosis Methadone

Oleh :
dr. Tanessa Audrey Wihardji
Share To Social Media:

Indikasi methadone atau metadon adalah untuk tata laksana dependensi opioid, dengan dosis inisial 20‒30 mg dalam dosis tunggal. Selain itu, obat ini juga digunakan sebagai analgesik untuk manajemen nyeri kronik.[1,3-5,14]

Dependensi Opioid

Pada opioid use disorder, methadone digunakan untuk mengendalikan gejala putus opioid (withdrawal), baik dalam program detoksifikasi maupun sebagai terapi pemeliharaan (maintenance treatment). Pemilihan methadone dibandingkan obat lain perlu mempertimbangkan preferensi pasien, riwayat terapi, dan kondisi klinis.

Methadone khususnya dapat dipertimbangkan pada pasien yang membutuhkan pemberian obat dan supervisi harian atau yang tidak memberikan respons memadai terhadap buprenorfin.[5]

Dosis Detoksifikasi

Untuk detoksifikasi atau penatalaksanaan withdrawal, methadone diberikan secara oral dan terapi awal harus dilakukan dengan pengawasan ketika pasien menunjukkan gejala withdrawal serta tidak dalam keadaan sedasi atau intoksikasi.

  • Dosis awal umumnya 20–30 mg sebagai dosis tunggal, dengan dosis awal tidak melebihi 30 mg dan dapat lebih rendah pada pasien dengan toleransi opioid yang diperkirakan rendah.
  • Apabila gejala withdrawal belum teratasi atau muncul kembali, dapat diberikan tambahan 5–10 mg, setelah pasien dievaluasi kembali sekitar 2–4 jam setelah dosis sebelumnya.
  • Total dosis pada hari pertama umumnya tidak melebihi 40 mg, kecuali gejala withdrawal masih belum terkendali.
  • Selama minggu pertama, dosis disesuaikan berdasarkan respons klinis, dengan kehati-hatian karena methadone dapat terakumulasi selama beberapa hari pertama sehingga peningkatan dosis yang terlalu cepat dapat meningkatkan risiko toksisitas.
  • Setelah gejala withdrawal stabil selama sekitar 2–3 hari, dosis kemudian diturunkan secara bertahap untuk detoksifikasi jangka pendek, dengan penyesuaian individual agar gejala withdrawal tetap dapat ditoleransi.[5]

Dosis Pemeliharaan (Maintenance)

Untuk terapi pemeliharaan, dosis methadone dititrasi hingga tercapai kondisi di mana gejala withdrawal terkontrol selama sekitar 24 jam, craving berkurang, dan efek euforia dari penggunaan opioid lain terhambat atau berkurang, tanpa menimbulkan sedasi berlebihan.

Stabilisasi dosis pemeliharaan biasanya berada pada kisaran 80–120 mg sekali sehari, meskipun kebutuhan setiap pasien berbeda dan dosis harus ditentukan serta disesuaikan berdasarkan respons klinis dan keamanan. Pemberian satu kali sehari umumnya sudah memadai. Dosis terbagi umumnya tidak membawa manfaat tambahan, tetapi dapat dipertimbangkan pada kondisi klinis tertentu.

Kebutuhan dosis pemeliharaan harus ditinjau secara berkala. Pada pasien yang ingin menghentikan terapi methadone secara medis, dosis sebaiknya diturunkan secara bertahap, umumnya setiap 10–14 hari dengan pengurangan kurang dari 10% dari dosis pemeliharaan yang telah ditetapkan.[5]

Sindrom Abstinensia Neonatal (Off Label)

Untuk neonatal abstinence syndrome, dosis awal methadone umumnya 0,05–0,1 mg/kg, tetapi frekuensi pemberian dan kriteria penyesuaian dosis dapat berbeda antarprotokol. Secara umum, dosis dapat ditingkatkan apabila skor withdrawal tetap tinggi, misalnya dua skor berturut-turut ≥8 atau satu skor ≥12, sedangkan penurunan dosis dipertimbangkan setelah kondisi bayi stabil, misalnya rata-rata skor <8 atau tidak terdapat skor >8 selama 24 jam.

Salah satu pendekatan menggunakan dosis awal 0,1 mg/kg dengan interval pemberian yang lebih pendek pada tahap awal, kemudian interval diperpanjang hingga setiap 12 jam setelah kondisi bayi stabil. Dosis selanjutnya diturunkan secara bertahap, misalnya dalam jumlah kecil setiap 24 jam sesuai toleransi, hingga mencapai 0,01 mg/kg sekali sehari, kemudian dihentikan.

Pendekatan lain menggunakan 0,05–0,1 mg/kg setiap 12 jam, dengan peningkatan dosis bila diperlukan sebesar 0,02–0,05 mg/kg/dosis atau sekitar 10%, dengan beberapa protokol menetapkan maksimum 1 mg/kg/hari. Setelah gejala withdrawal terkendali, dosis dapat diturunkan secara bertahap, misalnya 10–20% per minggu, meskipun strategi tapering harus disesuaikan dengan respons klinis bayi.

Karena belum terdapat satu regimen yang dianggap paling optimal untuk semua neonatus, dosis dan interval pemberian harus mengikuti protokol khusus neonatologi, bukan diterapkan sebagai dosis baku untuk setiap bayi. Setelah methadone dihentikan, neonatus perlu tetap dipantau selama 48–72 jam untuk mendeteksi munculnya kembali gejala withdrawal.[5]

Analgesik untuk Nyeri Kronik

Methadone sebagai analgesik untuk manajemen nyeri kronik digunakan dengan dosis:

  • Dewasa: 2,5‒10 mg, diberikan 3‒4 kali/hari.[14]

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

1. Durrani M, Bansal K. Methadone. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK562216/
3. Drugbank. www.drugbank.ca. Methadone. 2026. https://www.drugbank.ca/drugs/DB00333
4. Neto JO, Garcia MA, Garcia JB. Revisiting methadone: pharmacokinetics, pharmacodynamics and clinical indication. Rev. dor 16 (1). 2015. https://doi.org/10.5935/1806-0013.20150012
5. ASHP. Methadone (Monograph). 2025. https://www.drugs.com/monograph/methadone.html
14. MIMS Indonesia. Methadone. 2026. http://www.mims.com/indonesia/drug/info/metadon?mtype=generic

Formulasi Methadone
Efek Samping dan Interaksi Obat ...

Artikel Terkait

  • Bahaya Penggunaan Opioid Jangka Panjang Untuk Penatalaksanaan Nyeri Kronis Non-kanker
    Bahaya Penggunaan Opioid Jangka Panjang Untuk Penatalaksanaan Nyeri Kronis Non-kanker
  • Efikasi Methadone dalam Mengatasi Nyeri Karena Kanker
    Efikasi Methadone dalam Mengatasi Nyeri Karena Kanker
  • Telekonsultasi pada Rehabilitasi Adiksi
    Telekonsultasi pada Rehabilitasi Adiksi
  • Methadone dalam Penatalaksanaan Nyeri pada Kanker Anak Stadium Lanjut
    Methadone dalam Penatalaksanaan Nyeri pada Kanker Anak Stadium Lanjut
  • Penyalahgunaan dan Overdosis Nitazene
    Penyalahgunaan dan Overdosis Nitazene

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 30 Mei 2026, 07:17
Alur penanganan putus NAPZA
Oleh: Anonymous
8 Balasan
Alo dokter, saya kerja di klinik pratama bpjs....ada pasien yg mengaku kejang2 sampai mulut berbusa sudah berulang kali, dia mengaku pernah konsumsi napza...
dr. Irene Cindy Sunur
Dibalas 29 Mei 2023, 15:19
Methadone untuk Penatalaksanaan Nyeri pada Anak dengan Kanker Stadium Lanjut - Artikel CME SKP Alomedika
Oleh: dr. Irene Cindy Sunur
1 Balasan
ALO Dokter!Methadone sering diberikan kepada pasien anak yang mengalami nyeri terkait kanker stadium lanjut, misalnya nyeri akibat progresivitas kanker...
Anonymous
Dibalas 19 Oktober 2022, 09:42
Alur rehabilitasi narkoba
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dokter, saya ada pasien yang menurut pacarnya dicurigai memakai narkoba. Tetapi sejauh ini belum pernah memorgoki pacarnya tersebut sedang memakai. Itu...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.