Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Methadone
Penggunaan methadone atau metadon pada kehamilan masuk dalam kategori C, baik oleh FDA maupun TGA. Meski begitu, opioid use disorder yang tidak diobati selama kehamilan telah dikaitkan dengan berbagai komplikasi kehamilan, sehingga penggunaan methadone pada kehamilan bisa memiliki manfaat yang lebih besar dari risikonya. Pada ibu menyusui, methadone diekskresikan melalui ASI sehingga perlu pengawasan bagi bayi.[5,10-12]
Penggunaan pada Kehamilan
Food and Drug Administration (FDA) dan Therapeutic Goods Administration (TGA) memasukan methadone ke dalam kategori C. Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.[5,10-12]
Penelitian methadone pada wanita hamil memberikan hasil yang tidak konsisten, di mana belum jelas ditemukan efek methadone pada janin. Meski begitu, perlu diketahui bahwa penggunaan methadone telah dikaitkan dengan peningkatan risiko bayi prematur, intrauterine growth retardation (IUGR), dan intrauterine fetal death (IUFD).[11]
Di sisi lain, opioid use disorder yang tidak diobati selama kehamilan juga berkaitan dengan berbagai komplikasi kehamilan serius. Oleh karena itu, terapi pemeliharaan dengan methadone dapat memberikan manfaat karena ibu yang mengikuti program methadone dilaporkan memiliki perawatan prenatal yang lebih baik serta risiko komplikasi obstetrik, komplikasi janin, dan morbiditas maupun mortalitas neonatal yang lebih rendah.
Perlu diketahui bahwa selama trimester kedua dan ketiga, eliminasi methadone dapat meningkat sehingga kadar obat terendah dan waktu paruhnya dapat menurun. Akibatnya, penyesuaian dosis mungkin diperlukan berdasarkan kondisi klinis dan respons pasien.
Lebih lanjut, karena methadone dapat melewati plasenta dan telah ditemukan dalam plasma tali pusat serta cairan amnion, penggunaan opioid yang berkepanjangan selama kehamilan juga dapat menyebabkan neonatal abstinence syndrome, yang dalam kasus berat dapat mengancam jiwa.[5]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Methadone dikeluarkan ke ASI pada ibu menyusui. Meski begitu, methadone umumnya kompatibel dengan menyusui pada ibu yang menjalani terapi pemeliharaan dan kondisinya stabil, terutama bila methadone telah digunakan selama kehamilan.
Jumlah methadone yang berpindah ke ASI relatif kecil. Bayi umumnya diperkirakan menerima sekitar 1–3% dari dosis maternal yang telah disesuaikan berdasarkan berat badan, meskipun pada sebagian kecil kasus dapat mencapai sekitar 5–6%. Karena itu, ibu yang stabil dalam program methadone selama kehamilan umumnya dianjurkan untuk menyusui, kecuali terdapat kontraindikasi lain.
Menyusui bahkan dapat bermanfaat pada bayi yang telah terpapar methadone sejak dalam kandungan, karena berbagai penelitian menunjukkan bahwa menyusui dapat mengurangi keparahan atau frekuensi neonatal abstinence syndrome, mengurangi kebutuhan terapi farmakologi, serta memperpendek lama perawatan di rumah sakit.
Namun, manfaat tersebut tidak berarti methadone sepenuhnya aman bagi bayi, dan efek jangka panjang paparan methadone melalui ASI masih belum diketahui pasti.[17]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha