Pendahuluan Transurethral Resection of The Prostate (TURP)
Transurethral resection of the prostate (TURP) adalah operasi yang dilakukan untuk mengatasi pembesaran prostat seperti pada benign prostate hyperplasia (BPH). Secara klinis, TURP dilakukan pada pasien dengan gejala saluran kemih bawah derajat sedang–berat yang refrakter terhadap terapi medikamentosa atau disertai komplikasi seperti retensi urin berulang, batu kandung kemih, hematuria persisten, atau penurunan fungsi ginjal.[1-3]
Teknik yang digunakan pada prosedur TURP terdiri dari beberapa jenis. Berdasarkan arus listrik yang digunakan terdapat teknik monopolar dan bipolar. Sementara itu, berdasarkan posisi awal tindakan reseksi terdapat teknik Nesbit dan teknik Milner. Berdasarkan hasil akhir terhadap jaringan prostat terdapat teknik reseksi dan teknik laser atau foto-vaporisasi.[1]
TURP kontraindikasi pada pasien dengan kontraindikasi anestesi atau risiko sekuel berat akibat operasi, serta infeksi saluran kemih (ISK) yang tidak diobati. Kontraindikasi relatif TURP mencakup pasca terapi radiasi untuk kanker prostat, myasthenia gravis, sclerosis multiple, dan Parkinson.[1]
Prosedur TURP secara umum diawali dengan dilatasi uretra, dilanjutkan dengan penilaian derajat obstruksi dan kondisi kandung kemih. Kemudian reseksi jaringan dilakukan secara bergantian antara pemotongan jaringan dan koagulasi, dimulai dari lobus medial bila menonjol dan dilanjutkan ke lobus lateral.[1,2]
Setelah reseksi utama selesai, kandung kemih dikosongkan untuk mengeluarkan jaringan prostat, dan bila perlu juga dilakukan irigasi manual menggunakan bladder evacuator atau Toomey syringe. Kemudian, dilakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada perdarahan aktif atau jaringan yang tertinggal, seluruh alat dikeluarkan dan dilakukan pemasangan kateter urin.[1,2]
TURP dapat menimbulkan beberapa komplikasi akibat kesalahan teknik, perdarahan, atau cedera jaringan sekitar. Bila proses reseksi dipaksakan pada prostat dengan ukuran besar atau diperkirakan melebihi durasi aman operasi (±90 menit), risiko komplikasi dapat meningkat signifikan.[1]
Suatu meta-analisis menunjukkan laju komplikasi pada prosedur TURP yaitu sindroma TURP (2%), perdarahan (8%), kebutuhan transfusi darah (6%), retensi urin (4%), inkontinensia (8%), striktur uretra (3%), stenosis leher kandung kemih (2%), evakuasi gumpalan darah, dan infeksi saluran kemih.[5]
