Pedoman Klinis Transurethral Resection of The Prostate (TURP)
Pedoman klinis tindakan transurethral resection of the prostate (TURP) meliputi seleksi pasien dengan evaluasi derajat obstruksi dan komorbiditas, pemilihan teknik (monopolar, bipolar, atau laser) sesuai risiko perdarahan dan ketersediaan alat, serta pengendalian waktu operasi dan cairan irigasi untuk mencegah sindrom TUR.
TURP adalah prosedur elektif dan irreversibel, sehingga edukasi dan keputusan bersama wajib dilakukan. Pasien dan keluarga harus memahami indikasi, manfaat, dan risiko komplikasi, sehingga ekspektasi pasien sesuai dengan kemungkinan hasil yang dicapai.[1-3]
Pemilihan Teknik
Pemilihan teknik harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan fasilitas. TURP bipolar secara umum lebih aman pada pasien dengan risiko perdarahan atau penggunaan antikoagulan dan tidak menimbulkan sindroma TUR. Laser dapat menjadi alternatif aman pada pasien dengan antikoagulan namun lebih lambat dan tidak menghasilkan jaringan untuk pemeriksaan histopatologis.
Selama tindakan harus dijaga visibilitas, hemostasis, dan kedalaman reseksi agar tidak terjadi perforasi kapsul prostat, sedangkan pascaoperasi perlu pemantauan terhadap perdarahan, keseimbangan cairan-elektrolit, dan fungsi berkemih.[1-3]
Pengendalian Risiko Komplikasi
Penguasaan teknik reseksi sangat memengaruhi komplikasi. Kesalahan posisi resektoskop, reseksi terlalu dalam, kauterisasi berlebihan, atau reseksi pada area apikal dan atap tanpa kontrol dapat menyebabkan perforasi, perdarahan, cedera sfingter, hingga inkontinensia permanen. Oleh sebab itu, direkomendasikan untuk mengerjakan area apikal dan atap paling akhir dengan hati-hati.
Komplikasi harus dipahami secara sistematis sebagai komplikasi intraoperatif dan pascaoperasi. Potensi komplikasi intraoperatif mencakup perforasi kandung kemih, cedera ureter, perdarahan berat, dan salah penempatan kateter. Komplikasi pascaoperasi mencakup sindroma TUR, ejakulasi retrograd, infeksi, striktur uretra, kontraktur leher kandung kemih, retensi urin, dan perdarahan lanjut.
Deteksi dini komplikasi dapat meningkatkan prognosis. Identifikasi awal tanda bahaya dari komplikasi seperti distensi abdomen pada perforasi, gejala neurologis akibat hiponatremia yang mengarah pada sindroma TUR, atau inkontinensia yang tidak membaik harus segera ditangani.
Tindak lanjut pascaoperasi membutuhkan pemantauan terhadap urin, fungsi kateter, dan stabilitas hemodinamik. Irigasi harus dilakukan sampai jernih sebelum operasi dinyatakan selesai. Pemasangan kateter Foley harus hati-hati untuk mencegah cedera subtrigonal. Latihan dasar panggul (Kegel) dianjurkan untuk mencegah inkontinensia pascaoperasi.[1,3,5]