Komplikasi Transurethral Resection of The Prostate (TURP)
Komplikasi transurethral resection of the prostate (TURP) dapat timbul akibat kesalahan teknik, perdarahan, atau cedera jaringan sekitar. Bila proses reseksi dipaksakan pada prostat dengan ukuran besar atau diperkirakan melebihi durasi aman operasi (±90 menit), risiko komplikasi dapat meningkat signifikan.[1]
Suatu meta-analisis menunjukkan laju komplikasi pada prosedur TURP sebagai berikut:
- Sindroma TUR (2%)
- Perdarahan (8%) dan kebutuhan transfusi darah (6%)
Retensi urin (4%)
Inkontinensia (8%)
Striktur uretra (3%)
- Stenosis leher kandung kemih (2%).[5]
Komplikasi Intraoperatif
Komplikasi selama operasi TURP dapat meliputi risiko anestesi umum, perforasi kandung kemih, cedera orifis ureter, kerusakan pada leher kandung kemih, perforasi kapsul prostat, dan ekstravasasi cairan. Prosedur juga dapat gagal diselesaikan jika terjadi perdarahan hebat atau visibilitas buruk. Selain itu, pemasangan kateter Foley berisiko masuk ke subtrigonum atau retroperitoneum bila tidak tepat.[1]
Perdarahan
Perdarahan merupakan salah satu risiko paling umum, terutama bila kauterisasi dilakukan terlalu awal sebelum mencapai kapsul, sehingga pembuluh darah yang sama terpapar berulang kali dan sulit dikendalikan. Perdarahan masif juga dapat terjadi pada area leher kandung kemih atau atap prostat yang terlalu tipis.[1]
Perforasi Kandung Kemih
Terjadinya refleks obturator dapat berpotensi menyebabkan perforasi dinding prostat atau kandung kemih. Perforasi kandung kemih dapat memicu distensi abdomen, bradikardia akibat respon vagal, hipotensi, atau nyeri bahu dan abdomen. Diperlukan pemeriksaan sistogram segera setelah penghentian operasi. Jika perforasi cukup besar, perlu dilakukan perbaikan bedah.[1]
Kesalahan Teknik
Kesalahan Teknik seperti salah penempatan atau gerakan resektoskop dapat menyebabkan cedera sfingter eksternal yang dapat mengakibatkan komplikasi inkontinensia permanen. Tanda awal kesalahan ini adalah resektoskop terasa bergoyang dan prosedur harus segera dihentikan untuk reposisi.
Kauterisasi verumontanum berisiko menimbulkan nyeri ejakulasi pascaoperasi. Sementara itu, penggunaan kauter berlebihan pada jaringan normal, terutama leher kandung kemih, dapat menyebabkan iritasi pasca operasi dan pembentukan jaringan parut yang mengakibatkan stenosis atau striktur.
Visibilitas yang buruk akibat bekuan darah atau serpihan jaringan dapat meningkatkan risiko komplikasi, sehingga tidak dianjurkan melanjutkan tindakan sebelum memperbaiki visibilitas area operasi. Pada akhir tindakan, pemasangan kateter Foley yang tidak tepat dapat menyebabkan cedera subtrigonal atau penetrasi ke retroperitoneum, sehingga direkomendasikan penggunaan panduan kawat pada kasus sulit.[1]
Sindroma TUR (Hiponatremia Dilusional)
Sindroma TUR adalah komplikasi serius akibat absorpsi cairan irigasi hipotonik pada TURP monopolar yang menyebabkan hiponatremia dilusional dan gejala neurologis seperti muntah, bingung, kegelisahan, gangguan visual, kejang, koma, hingga kematian. Risiko meningkat pada pasien dengan hiponatremia sebelumnya, pasien gagal ginjal, tekanan irigasi tinggi (>60 cmH2O), perdarahan berat, atau waktu operasi lama.[1]
Komplikasi Pascaoperasi
Sebagian besar pasien TURP akan mengalami ejakulasi retrograde dan tidak mengeluarkan semen, meskipun fungsi ereksi terjaga pada 90% pasien.
Komplikasi lain meliputi gejala urin menetap, infeksi saluran kemih atau prostatitis kronis, inkontinensia sementara, serta retensi urin akibat obstruksi atau keterbatasan fungsi kandung kemih.[1]