Prognosis Tuberkulosis Paru
Dalam hal prognosis, tingkat kesembuhan pada pasien tuberkulosis paru atau TB paru sensitif obat (TB SO) yang mampu menyelesaikan seluruh regimen terapi dapat melebihi 95%. Namun, berbagai faktor dapat memengaruhi keberhasilan pengobatan, termasuk luasnya penyakit, keterlambatan inisiasi terapi, komorbiditas, usia, komplikasi, kebutuhan ventilasi mekanik, adanya resistensi obat, serta kejadian efek samping obat.[3]
Komplikasi
Komplikasi tuberkulosis bergantung pada luas dan organ yang terlibat, serta potensi toksisitas obat antituberkulosis yang digunakan selama terapi. Risiko komplikasi meningkat pada individu yang mengalami dampak sosial-ekonomi seperti kemiskinan, malnutrisi, konflik atau perang, serta pada pasien dengan kondisi imunosupresi atau gangguan sistem imun.
Komplikasi klinis TB dapat melibatkan berbagai sistem organ, termasuk menyebabkan syok septik, obstruksi jalan napas, pneumonia, bronkiektasis, empiema, fistula bronkopleura, hemoptisis, meningitis TB, osteomyelitis, peritonitis, abses ginjal, serta infertilitas.
Selain komplikasi akibat penyakit, obat antituberkulosis juga dapat menimbulkan efek samping signifikan, seperti hepatitis akibat obat, neuritis optik, serta interaksi obat yang kompleks, terutama pada pasien dengan komorbiditas atau yang menerima terapi lain secara bersamaan.[3]
Tabel 1. Efek Samping Obat Antituberkulosis
| Efek Samping | Kemungkinan Obat Penyebab | Terapi |
| Ruam kulit dengan atau tanpa gatal | Streptomycin, isoniazid, rifampicin, pirazinamid | Hentikan terapi |
| Tuli | Streptomycin | Hentikan streptomycin |
| Vertigo dan nistagmus | Streptomycin | Hentikan streptomycin |
| Hepatitis | Streptomycin, isoniazid, rifampicin, pirazinamid | Hentikan terapi |
| Konfusi (curigai gagal hati imbas obat) | Hampir seluruh OAT | Hentikan terapi |
| Gangguan penglihatan | Etambutol | Hentikan etambutol |
| Syok, purpura, gagal ginjal akut (jarang terjadi; akibat reaksi imunologi) | Rifampicin | Hentikan rifampicin |
| Oliguria | Streptomycin | Hentikan streptomycin |
| Efek samping ringan, seperti mual dan muntah | Seluruh OAT | Lanjutkan terapi, pertimbangkan modifikasi dosis |
Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020.[17]
Prognosis
Jika menyelesaikan seluruh regimen terapi, tingkat kesembuhan pada pasien TB sensitif obat (TB SO) dapat melebihi 95%. Meski begitu, keberhasilan terapi akan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti luasnya penyakit, keterlambatan inisiasi terapi, komorbiditas, usia, kebutuhan ventilasi mekanik, adanya resistensi obat, serta kejadian efek samping obat.
Menurut WHO, angka keberhasilan pengobatan adalah 85% pada pasien TB baru dan relaps, 76% pada pasien dengan koinfeksi HIV, dan 57% pada pasien dengan multidrug-resistant TB (MDR-TB). Pengembangan regimen baru diharapkan dapat meningkatkan luaran pada pasien TB resisten obat (TB RO).[3]
Beberapa faktor yang dikaitkan dengan prognosis lebih buruk antara lain keterlibatan ekstraparu, kondisi imunokompromais, usia lanjut, serta riwayat infeksi atau pengobatan TB sebelumnya. Sementara itu, faktor risiko mortalitas meliputi rendahnya respon TNF-α basal terhadap stimulasi, indeks massa tubuh yang rendah, serta frekuensi napas yang meningkat saat diagnosis TB.[5]
Angka Kekambuhan
Berdasarkan studi inventori TB di Indonesia, beban penyakit kasus TB paling tinggi berada pada usia 15 tahun atau lebih yaitu sebesar 80,2%. Kasus terjadi lebih banyak pada jenis kelamin laki-laki dibanding perempuan, dan lebih tinggi di daerah Jawa-Bali, diikuti Sumatera.[14]
Secara global angka kekambuhan dilaporkan berkisar antara 0-14%. Di negara dengan angka insidensi TB rendah, kekambuhan biasanya terjadi dalam 12 bulan pertama setelah terapi selesai dan umumnya disebabkan oleh relaps (reaktivasi infeksi lama). Sebaliknya, di negara dengan beban TB tinggi seperti Indonesia, sebagian besar kekambuhan setelah pengobatan disebabkan oleh reinfeksi.[5]
Studi lokal di salah satu daerah di Yogyakarta melaporkan bahwa dari total pasien TB yang dianalisis, angka kekambuhan mencapai 6,18%. Rata-rata waktu terjadinya kekambuhan adalah sekitar 17 bulan setelah pasien menyelesaikan pengobatan pertama. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien berhasil menyelesaikan terapi, namun risiko kekambuhan tetap ada dalam periode dua tahun pertama pasca pengobatan.[15]
Penulisan pertama oleh: dr. DrRiawati MMedPH