Epidemiologi Tuberkulosis Paru
Data epidemiologi menunjukkan bahwa tuberkulosis paru atau TB paru memiliki insidensi yang tinggi di Indonesia, yang mana Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus tuberkulosis kedua terbanyak di dunia setelah India. Insidensi tuberkulosis di Indonesia dilaporkan mencapai 382 per 100.000 penduduk. Sementara itu, insidensi global sebesar 131 kasus per 100.000 penduduk per tahun.[6]
Global
Berdasarkan Global Tuberculosis Report yang dipublikasikan oleh WHO, pada tahun 2024 diperkirakan 10,7 juta orang di dunia menderita tuberkulosis, dengan angka insidensi global mencapai 131 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Sebanyak 87% kasus global berasal dari 30 negara dengan beban tuberkulosis tinggi, dengan dua negara penyumbang terbesar yaitu India (25%), dan Indonesia (10%).[6]
Secara demografis, 54% kasus terjadi pada laki-laki, 35% pada perempuan, dan 11% pada anak-anak. Beberapa wilayah menunjukkan kemajuan yang lebih baik, seperti kawasan Afrika (penurunan insidensi 28% dan kematian 46%) serta Eropa (penurunan insidensi 39% dan kematian 49%) sejak 2015.[6]
Indonesia
Indonesia menempati peringkat kedua dengan beban tuberkulosis tertinggi serta kesenjangan terbesar kedua antara estimasi angka kejadian dan jumlah kasus yang dilaporkan. Berdasarkan pada profil tuberkulosis Indonesia, pada tahun 2024 Indonesia diperkirakan memiliki 1.080.000 kasus baru dengan insidensi mencapai 382 per 100.000 penduduk.
Dari jumlah tersebut, sekitar 33.000 kasus terjadi pada orang dengan HIV, dan sekitar 26.000 merupakan kasus tuberkulosis resisten obat. Dari sisi layanan kesehatan, cakupan pengobatan tuberkulosis pada 2024 mencapai 77% dari estimasi kasus, namun beban ekonomi masih besar.
Profil Kesehatan Indonesia tahun 2024 menyatakan bahwa jumlah kasus tertinggi berasal dari provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Kasus tuberkulosis terbanyak ditemukan pada kelompok umur 0-14 tahun sebesar 16,2%, diikuti oleh kelompok umur 45-54 tahun sebesar 15,9 % dan 55-64 tahun sebesar 15,4%.[5,7]
Mortalitas
Berdasarkan Global Tuberculosis Report, diperkirakan 1,23 juta orang meninggal dunia akibat tuberkulosis, dengan case fatality rate mencapai 11,5%. Infeksi tuberkulosis termasuk dalam 10 penyebab kematian tertinggi di dunia dan merupakan penyebab kematian utama akibat satu agen infeksius.
Tren kematian akibat tuberkulosis berbeda menurut status HIV. Kematian pada populasi tanpa HIV sempat meningkat selama pandemi COVID-19, lalu kembali menurun sejak 2022. Sementara itu, kematian tuberkulosis pada orang dengan HIV terus menurun dalam jangka panjang dan telah berkurang 76% sejak 2010.[6]
Berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin pada populasi tanpa HIV, 50% kematian terjadi pada laki-laki dewasa, 34% pada perempuan dewasa, dan 16% pada anak-anak. Pada populasi dengan HIV, proporsi kematian relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan dewasa, dengan sebagian kecil terjadi pada anak-anak.[6]
Sementara di Indonesia, angka kematian akibat tuberkulosis pada 2024 diperkirakan mencapai 118.000 pada populasi tanpa HIV dan 8.100 pada populasi dengan HIV. Tuberkulosis tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi ke-4 di Indonesia pada tahun 2021.[6]
Penulisan pertama oleh: dr. DrRiawati MMedPH