Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Chlorpromazine
Penggunaan chlorpromazine pada kehamilan tidak dianjurkan. Food and Drugs Administration memasukkan obat ini dalam kategori C. Penggunaan selama kehamilan hanya diijinkan bila manfaat yang didapat lebih besar dari bahaya yang mungkin terjadi. Pada ibu menyusui, penggunaan chlorpromazine diketahui dikeluarkan ke ASI.[2,14]
Penggunaan pada Kehamilan
Kategori Food and Drugs Administration (FDA) adalah C artinya studi reproduksi pada hewan menunjukkan efek buruk pada fetus, tetapi belum ada cukup bukti ilmiah pada fetus manusia.[2]
Therapeutic Goods Administration (TGA) memasukkan obat chlorpromazine ini dalam kategori D. Artinya, obat ini diduga meningkatkan kejadian malformasi kongenital atau kerusakan irreversible pada fetus.[8]
Neonatus yang terpapar obat antipsikotik, termasuk chlorpromazine, selama trimester 3, dapat mengalami gejala ekstrapiramidal, maupun gejala putus obat atau neonatal abstinence syndrome setelah dilahirkan.
Manifestasi klinisnya, antara lain agitasi, hipertonia atau hipotonia, tremor, somnolen, gangguan pernapasan, dan gangguan menyusu. Gejala yang timbul dapat membaik dengan sendirinya, maupun mungkin memerlukan pengobatan lebih lanjut.
Sebaiknya, chlorpromazine tidak digunakan selama kehamilan, ataupun pada perempuan usia reproduktif yang tidak menggunakan kontrasepsi. Penggunaan chlorpromazine hanya diperbolehkan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.[2,3,11]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Chlorpromazine diekskresikan ke dalam ASI, sehingga penggunaannya kurang dianjurkan pada ibu menyusui. Efek samping yang paling sering dilaporkan pada bayi yang menyusu dari ibu pengguna chlorpromazine adalah sedasi, mengantuk berlebihan, atau letargi, meskipun kejadian ini relatif jarang.
Oleh karena itu, bayi perlu dipantau terhadap tanda-tanda kantuk berlebihan, kesulitan menyusu, penurunan aktivitas, serta pencapaian tonggak perkembangan (developmental milestones). Kehati-hatian yang lebih besar diperlukan apabila chlorpromazine digunakan bersamaan dengan antipsikotik lain, terutama haloperidol, karena terdapat laporan penurunan skor perkembangan pada sebagian bayi yang terpapar kombinasi kedua obat tersebut.
Selain itu, chlorpromazine dapat meningkatkan kadar prolaktin melalui efek antagonisme dopamin, sehingga dapat menyebabkan galaktorea dan bahkan pernah digunakan untuk meningkatkan produksi ASI, meskipun saat ini penggunaannya sebagai galaktagog telah banyak digantikan oleh obat lain yang kurang menyebabkan sedasi seperti domperidone.[2,14]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha