Diagnosis Alergi Makanan
Diagnosis alergi makanan perlu dicurigai jika muncul gejala alergi berulang dan konsisten setelah konsumsi makanan tertentu, seperti telur, kacang, susu, atau makanan laut. Manifestasi dapat berupa gejala kulit seperti urtikaria, angioedema, atau pruritus; gejala saluran cerna seperti muntah, diare, nyeri perut; gejala respirasi seperti batuk, mengi, sesak napas; hingga reaksi sistemik berupa anafilaksis.
Kecurigaan adanya alergi makanan juga meningkat pada bayi atau anak dengan dermatitis atopik atau keluhan gastrointestinal kronis yang membaik setelah eliminasi makanan tertentu. Riwayat pribadi atau keluarga dengan penyakit atopik seperti asma, rinitis alergi, dan dermatitis atopik juga mendukung kemungkinan alergi makanan.[1,2,5,8]
Anamnesis
Dalam anamnesis, identifikasi hubungan antara konsumsi makanan tertentu dengan munculnya gejala alergi. Tanyakan jenis makanan yang dicurigai, jumlah yang dikonsumsi, bentuk makanan (mentah atau matang), waktu munculnya gejala setelah pajanan, serta konsistensi reaksi setiap kali makanan tersebut dikonsumsi.
Gejala yang ditanyakan meliputi manifestasi kulit seperti urtikaria, pruritus, dan angioedema; gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, nyeri perut, dan diare; gejala respirasi seperti batuk, mengi, sesak napas; hingga gejala sistemik seperti pusing, hipotensi, atau anafilaksis. Riwayat penanganan sebelumnya, termasuk kebutuhan epinefrin atau rawat inap, juga penting untuk menilai derajat keparahan reaksi alergi.
Selain gejala akut, anamnesis juga perlu menilai faktor risiko dan dampak jangka panjang alergi makanan terhadap pasien. Riwayat penyakit atopik lain seperti dermatitis atopik, asma, atau rinitis alergi pada pasien maupun keluarga dapat mendukung diagnosis. Pada bayi dan anak, perlu ditanyakan pola makan, riwayat pemberian ASI atau susu formula, gangguan pertumbuhan, serta adanya eliminasi makanan tertentu yang menyebabkan perbaikan gejala.
Hal lain yang perlu dievaluasi adalah kemungkinan pajanan tersembunyi, kontaminasi silang makanan, penggunaan obat atau aktivitas fisik yang berhubungan dengan timbulnya reaksi, serta dampak psikososial seperti kecemasan makan di luar rumah dan pembatasan aktivitas sehari-hari akibat ketakutan terhadap reaksi alergi.[1-3,5,6-8]
Manifestasi Klinis Alergi Makanan Dimediasi IgE
Pada alergi makanan yang dimediasi IgE, manifestasi klinis yang dapat terjadi, antara lain pada:
- Kulit, yaitu berupa urtikaria, pruritus, eritema, serta angioedema akut, biasanya pada wajah, bibir, dan sekitar mata
- Sistem pencernaan, seperti pruritus oral, rasa tidak nyaman di tenggorokan, nausea, muntah, kolik abdomen, dan diare
- Sistem pernapasan, yang berupa bronkokonstriksi, dispnea, edema laring/stridor, batuk, wheezing, rhinorrhea, bersin-bersin, dan produksi mukus
- Gejala lain, seperti reaksi anafilaksis dan reaksi alergi sistemik lainnya, misalnya hipotensi, aritmia, takikardia, dan kebocoran plasma.[14,17]
Manifestasi Klinis Alergi Makanan Tidak Dimediasi IgE
Alergi makanan tidak dimediasi IgE juga bermanifestasi pada kulit, tetapi lebih sering didapatkan dalam bentuk dermatitis atopik, dermatitis kontak, atau dermatitis herpetiformis. Pada saluran pernapasan, gejala yang dijumpai terutama berupa gejala-gejala asma.
Pada saluran pencernaan, gejala yang terjadi lebih spesifik sesuai dengan penyakit yang timbul. Pada esofagitis eosinofilik, dapat terjadi gastro-oesophageal reflux yang terjadi tiba-tiba, disfagia, menghindari makanan tertentu (food aversion), dan striktur esofagus. Pada proktokolitis, dapat dijumpai perdarahan rektum, misalnya setelah diberikan protein susu sapi. Pada sindrom enterokolitis, dapat terjadi muntah-muntah
Berbeda dengan alergi makanan yang dimediasi IgE, pada alergi makanan tidak dimediasi IgE biasanya jarang menyebabkan gejala pada sistem kardiovaskular maupun sistemik.[5,14,18]
Pemeriksaan Fisik
Pada reaksi alergi makanan akut, temuan yang paling sering adalah kelainan kulit berupa urtikaria, eritema, pruritus, dan angioedema terutama pada wajah, bibir, kelopak mata, atau lidah. Pemeriksaan saluran napas dapat menunjukkan mengi, stridor, takipnea, retraksi, atau penurunan saturasi oksigen akibat bronkospasme dan edema jalan napas.
Pada kasus berat seperti anafilaksis, dapat ditemukan hipotensi, takikardia, penurunan kesadaran, hingga tanda syok. Pemeriksaan gastrointestinal kadang menunjukkan distensi abdomen atau nyeri tekan ringan, meskipun sering kali tidak spesifik.
Pada kondisi kronis atau alergi makanan yang tidak dimediasi IgE, pemeriksaan fisik dapat memperlihatkan tanda penyakit atopik lain seperti dermatitis atopik, kulit kering, ekskoriasi akibat garukan, atau allergic shiners.
Pada bayi dan anak, penting menilai status nutrisi dan pertumbuhan karena eliminasi makanan berlebihan dalam jangka panjang dapat menyebabkan defisiensi nutrisi tertentu. Pemeriksaan juga perlu mencari tanda komplikasi seperti mengi kronis pada pasien dengan asma terkait alergi makanan atau tanda dehidrasi akibat muntah dan diare berulang.[1,2,4-8]
Diagnosis Banding
Diagnosis banding alergi makanan dapat berbeda-beda tergantung gejala yang muncul.
Intoleransi Makanan
Intoleransi makanan berbeda dengan alergi makanan. Intoleransi makanan yang paling umum ditemukan adalah intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa memiliki gejala yang dapat menyerupai alergi makanan, seperti diare, perut kembung, nyeri abdomen, nausea, dan borborygmi.
Intoleransi laktosa terjadi akibat defisiensi enzim laktase, sehingga tidak dapat mencerna laktosa, sedangkan alergi makanan, misalnya alergi susu, merupakan reaksi sistem imun. Alergi susu dapat bersifat mengancam nyawa dan biasa muncul sejak bayi, sedangkan intoleransi laktosa biasa terjadi pada remaja atau dewasa muda.[6,19]
Gastroesophageal Reflux Disease
Gastroesophageal reflux disease (GERD) memiliki gejala disfagia, regurgitasi, rasa terbakar di dada, serta dapat disertai dengan riwayat nausea dan muntah. Beberapa gejala GERD serupa dengan alergi makanan. Namun, pada GERD gejala dapat dicetuskan oleh berbagai makanan, seperti makanan pedas, kopi, bawang, alkohol, dan peppermint. Konfirmasi diagnosis GERD perlu dilakukan dengan pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas.[20]
Urtikaria Akibat Penyebab Lain
Selain karena alergi makanan, urtikaria akut dapat disebabkan oleh penyebab lain. Untuk membedakannya, pada anamensis perlu dipastikan adanya paparan terhadap alergen makanan, dan bukan akibat obat, kontak fisik, atau gigitan serangga.[4,5]
Pemeriksaan Penunjang
Penegakkan diagnosis alergi makanan dilakukan dengan pemeriksaan food challenge, yang harus dilakukan dalam pengawasan dokter. Selain food challenge, terdapat juga beberapa pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan.[4,5,17]
Food Challenge
Pemeriksaan food challenge dilakukan untuk mengonfirmasi diagnosis alergi makanan, juga dapat dilakukan bila dokter menduga alergi makanan membaik atau telah sembuh. Beberapa makanan, seperti susu dan telur, tidak begitu alergenik jika dipanaskan, misalnya dipanggang menjadi kue atau roti. Food challenge dapat dilakukan untuk memastikan apakah pasien dapat mengonsumsi bahan makanan dalam bentuk masakan tersebut.
Mengingat kemungkinan terjadi reaksi anafilaksis, tes ini harus diawasi oleh dokter. Pemeriksaan dilakukan dengan cara pasien mengonsumsi jenis makanan yang dicurigai menimbulkan alergi dalam porsi sedikit. Kemudian, pasien dipantau dengan ketat selama 10–30 menit. Jika tidak ada reaksi, maka berikan porsi yang lebih besar. Hal ini dilakukan selama 90 menit. Jika gejala alergi muncul, tes dihentikan dan pasien segera diterapi.[4,5,17]
Catatan Harian Mengenai Makanan Pasien
Catatan makanan pasien atau biasa disebut sebagai food diary, dibuat oleh pasien atau orang tua dengan mencatat makanan yang dimakan dan gejala yang muncul. Metode ini merupakan cara sederhana untuk menyelidiki makanan penyebab alergi.
Gejala alergi terkadang tidak langsung muncul (delayed) sehingga alergen sulit dikenali, dan alergi tidak hanya bergantung pada jenis makanan, melainkan juga dipengaruhi jumlah, cara pengolahan, dan jenis makanan atau bumbu tambahan. Hal-hal tersebut tidak dapat diidentifikasi melalui catatan harian ini.[4-6,21]
Pemeriksaan Jumlah Eosinofil Dan IgE
Pemeriksaan ini menggunakan sampel serum, namun pemeriksaan ini kurang spesifik terhadap alergi makanan. Jumlah eosinofil dan IgE yang abnormal belum tentu menandakan terjadi alergi. Sebaliknya, hasil yang normal tidak mengeksklusi alergi. Oleh karena itu, hasil pemeriksaan perlu disesuaikan dengan klinis pasien.[4-7]
Eliminasi Diet
Metode ini bertujuan untuk menegakkan diagnosis sekaligus sebagai terapi. Pasien menghindari jenis makanan yang diduga memicu alergi selama 7–14 hari. Jika gejala masih muncul, hal serupa diulang dengan menghindari jenis makanan lain yang juga dicurigai menyebabkan alergi (trial and error), hingga penyebab alergi ditemukan.
Selain cara di atas, tes ini dapat diawali dengan memberikan beberapa jenis makanan yang jarang menyebabkan alergi. Jika tidak ditemukan gejala setelah 1 minggu, menu makanan pasien dapat ditambah jenis makanan baru. Hal ini diulang terus-menerus, hingga ditemukan makanan penyebab alergi pada pasien.[4-7,22]
Pemeriksaan Kulit
Skin prick test merupakan metode skrining yang umum digunakan. Positive predictive value pemeriksaan ini kurang dari 50% dan negative predictive value mencapai 90%. Hasil pemeriksaan perlu disesuaikan lagi dengan keadaan klinis pasien.
Tes kulit lain yang dapat dilakukan adalah tes intradermal dan uji tempel (patch test). Namun, skin prick test lebih dipilih karena lebih jarang menyebabkan efek sistemik dibandingkan tes intradermal, dan hasilnya lebih bermakna dibandingkan patch test.[1,4-7]
Pemeriksaan Antibodi IgE Spesifik
Pemeriksaan ini menggunakan sampel serum. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui alergen penyebab alergi.
Jenis makanan yang dapat diperiksa adalah daging, seperti ayam, babi, dan sapi, gandum, nasi, makanan laut bercangkang, seafood, jamur, kacang, tomat buah, seperti jeruk, kelapa, stroberi, pisang, telur, coklat, serta susu soya dan susu sapi.
Tidak semua jenis makanan dapat diperiksa melalui tes ini. Selain itu, tes ini hanya dapat dilakukan di kota-kota besar karena tidak tersedia di seluruh bagian Indonesia. Hasil yang positif menandakan adanya sensitisasi terhadap alergen tertentu dan belum pasti alergen tersebut menyebabkan gejala klinis pada pasien.[1,4-7,23]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha