Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Penatalaksanaan Alergi Makanan general_alomedika 2026-06-12T15:02:19+07:00 2026-06-12T15:02:19+07:00
Alergi Makanan
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Penatalaksanaan Alergi Makanan

Oleh :
dr. Paulina Livia Tandijono
Share To Social Media:

Penatalaksanaan alergi makanan dibedakan menjadi dua, yaitu mengatasi gejala alergi akut dan mencegah terjadinya reaksi alergi. Pengobatan gejala akut dilakukan dengan menggunakan antihistamin untuk kasus ringan, atau menggunakan epinefrin pada pasien yang mengalami anafilaksis. Sementara itu, cara pencegahan reaksi alergi yang terbaik adalah dengan menghindari paparan alergen.[1,2,4-8]

Penatalaksanaan Alergi Makanan Reaksi Akut

Pada pasien dengan gejala yang lokal, seperti mulut gatal atau urtikaria lokal, dapat diberikan antihistamin oral, seperti difenhidramin 25–50 mg setiap 6–8 jam, cetirizine 5–10 mg/hari, atau loratadine 10-20 mg/hari.

Sementara itu, pada pasien dengan anafilaksis, dapat diberikan epinefrin dari larutan 1:1000, dengan dosis dewasa sebesar 0,3–0,5 mL dan dosis anak sebesar 0,01 mL/kgBB. Epinefrin diberikan secara intramuskular, dan dapat diulang setelah 10–15 menit. Selain itu, dapat ditambahkan antihistamin parenteral, misalnya difenhidramin 10–50 mg IV/IM setiap 6–8 jam.

Pada pasien dengan riwayat anafilaksis sebaiknya diberikan epinefrin self-injectable, serta instruksi tertulis mengenai cara mengatasi alergi jika tidak sengaja menelan alergen. Pasien juga perlu mengenali tanda-tanda anafilaksis, misalnya angioedema, lidah bengkak, sesak di dada, perubahan suara napas, suara serak, dan rasa seperti tersedak.[1,5-8]

Pencegahan Reaksi Alergi Makanan

Pencegahan reaksi alergi dilakukan dengan menghindari paparan makanan yang sudah dipastikan menyebabkan alergi, baik secara tertelan, kontak kulit, maupun inhalasi. Kontak secara inhalasi dapat terjadi karena protein dapat menguap selama proses pengolahan, misalnya pada asap dari proses menggoreng atau mengukus, atau alergennya mudah terhirup misalnya tepung.

Selama proses pengolahan dan penyajian, tidak boleh ada kontak dengan makanan penyebab alergi. Jenis makanan yang diduga memiliki reaksi silang dengan makanan penyebab alergi juga dihindari. Reaksi silang dapat terjadi misalnya pada kasus alergi susu sapi dapat terjadi reaksi silang dengan susu kambing.[1,5-8,15]

Pada anak-anak, pembatasan jenis makanan yang berlebihan dapat menyebabkan defisiensi nutrisi dan gangguan pertumbuhan. Oleh karena itu, pada kasus alergi terhadap jenis makanan tertentu, perlu diberikan alternatif jenis makanan lain yang tidak menyebabkan alergi dan memiliki jenis dan jumlah nutrisi serupa.

Setelah 1–2 tahun menghindari makanan penyebab alergi, beberapa pasien telah dilaporkan mengalami toleransi. Oleh sebab itu, pasien dapat disarankan untuk mencoba kembali makanan tersebut setelah beberapa waktu. Namun, semakin tua usia terjadinya alergi, semakin kecil pula kemungkinan terjadi toleransi.[1,5–8]

Imunoterapi

Imunoterapi merupakan pemberian alergen makanan secara bertahap untuk meningkatkan ambang toleransi terhadap makanan tersebut. Beberapa metode pemberian imunoterapi, antara lain epicutaneous (EPIT), sublingual (SLIT), dan oral OIT). Pemberian OIT menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan EPIT dan SLIT, tetapi juga menyebabkan efek samping yang lebih banyak.

Sebagian penelitian mengenai imunoterapi ditujukan terhadap alergi kacang, sebab alergi kacang banyak ditemukan, dan berpotensi menyebabkan anafilaksis.[12,24]

Imunoterapi untuk Alergi Kacang

Imunoterapi untuk alergi kacang/peanut telah disetujui penggunaannya oleh Food and Drug Therapy (FDA) pada tahun 2020. Bubuk kacang allergen oral dapat meringankan reaksi alergi, termasuk anafilaksis, yang terjadi karena tidak sengaja terpapar kacang.

Berdasarkan uji klinis, 67,2% pasien usia 4–17 tahun yang berada di kelompok perlakuan mampu mengonsumsi protein kacang 600 mg atau lebih pada food challenge di akhir uji klinis. Namun, efikasi ini tidak terlihat pada peserta yang berusia 18 tahun atau lebih.

Omalizumab juga telah diujikan sebagai imunoterapi pada pasien dengan alergi makanan multiple. Obat ini dilaporkan efektif dibandingkan plasebo.[1,5-8,25,26]

Imunoterapi untuk Alergi Telur

Tinjauan Cochrane tahun 2018 mengevaluasi efektivitas imunoterapi oral dan sublingual untuk telur selama 1–2 tahun. Pada akhir penelitian, didapatkan hampir seluruh peserta mengalami peningkatan toleransi konsumsi telur. Namun, hampir seluruh peserta yang mendapat imunoterapi mengalami kejadian tidak diinginkan, terutama berkaitan dengan reaksi alergi. Sejumlah 1 dari 12 anak mengalami reaksi alergi berat yang membutuhkan epinefrin.[27]

Pedoman European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI) juga telah menganjurkan penggunaan imunoterapi oral untuk alergi telur. Menurut pedoman ini, imunoterapi oral (menggunakan makanan yang mengandung telur) pada anak usia di atas 4 tahun dapat mencetuskan desensitisasi terhadap alergi telur.[26]

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

1. Calvani M, Anania C, Caffarelli C, et al. Food allergy: an updated review on pathogenesis, diagnosis, prevention and management. Acta Biomed. 2020 Sep 15;91(11-S):e2020012. doi: 10.23750/abm.v91i11-S.10316.
2. Sicherer SH, Warren CM, Dant C, Gupta RS, Nadeau KC. Food Allergy from Infancy Through Adulthood. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020 Jun;8(6):1854-1864. doi: 10.1016/j.jaip.2020.02.010.
4. National Institute for Health and Care Excellence. Food allergy in under 19s: assessment and diagnosis. 2011. https://www.nice.org.uk/guidance/cg116/chapter/1-Guidance
5. Secord EA. Food Allergies. Medscape. 2026. https://emedicine.medscape.com/article/135959-overview#a5
6. Lopez CM, Yarrarapu SNS, Mendez MD. Food Allergies. StatPearls. 2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482187/
7. Delves PJ. Food Allergy. MSD Manual. 2025. http://www.msdmanuals.com/professional/immunology-allergic-disorders/allergic,-autoimmune,-and-other-hypersensitivity-disorders/food-allergy
8. Iglesia EGA, Kwan M, Virkud YV, Iweala OI. Management of Food Allergies and Food-Related Anaphylaxis. JAMA. 2024 Feb 13;331(6):510-521. doi: 10.1001/jama.2023.26857.
12. Sicherer, Scott H.; Sampson, Hugh A. Food allergy: A review and update on epidemiology, pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2018;141(1): 41–58. doi:10.1016/j.jaci.2017.11.003
15. Francis OL, Wang KY, Kim EH, Moran TP. Common food allergens and cross-reactivity. J Food Allergy. 2020 Sep 1;2(1):17-21. doi: 10.2500/jfa.2020.2.200020.
24. Macdougall JD, Burks AW, Kim EH. Current Insights into Immunotherapy Approaches for Food Allergy. Immunotargets Ther. 2021 Jan 27;10:1-8. doi: 10.2147/ITT.S266257
25. Wood RA, et al. Omalizumab for the Treatment of Multiple Food Allergies. N Engl J Med. 2024 Mar 7;390(10):889-899. doi: 10.1056/NEJMoa2312382.
26. Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the management of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2025 Jan;80(1):14-36. doi: 10.1111/all.16345.
27. Romantsik O, Tosca MA, Zappettini S, Calevo MG. Oral and sublingual immunotherapy for egg allergy. Cochrane Database Syst Rev. 2018 Apr 20;4(4):CD010638. doi: 10.1002/14651858.CD010638.pub3

Diagnosis Alergi Makanan
Prognosis Alergi Makanan

Artikel Terkait

  • Peran Formula Hidrolisat Parsial terhadap Pencegahan Alergi pada Anak
    Peran Formula Hidrolisat Parsial terhadap Pencegahan Alergi pada Anak
  • Pengaruh Sectio Caesarea Terhadap Prevalensi Alergi Anak
    Pengaruh Sectio Caesarea Terhadap Prevalensi Alergi Anak
  • Efek Berbahaya MSG bagi Kesehatan
    Efek Berbahaya MSG bagi Kesehatan
  • Membedakan Alergi Makanan dan Intoleransi Makanan
    Membedakan Alergi Makanan dan Intoleransi Makanan
  • Early Peanut Introduction
    Early Peanut Introduction

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
dr.Romzan Alfiriza Robby
Dibalas 19 Januari 2026, 07:39
Lambung Sering Perih? Bisa Jadi Bukan Asamnya
Oleh: dr.Romzan Alfiriza Robby
3 Balasan
ALO Dokter!Banyak orang kira sakit lambung itu karena asamnya tinggi. Padahal seringnya bukan itu.Masalahnya ada di dinding lambung yang sudah tipis dan...
Anonymous
Dibalas 01 April 2024, 08:11
Bagaimana prosedur desensitisasi alergi makanan
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Untuk pasien alergi makanan, bagaimana prosedur desensitisasi yang bisa dilakukan sendiri dan relatif tidak beresiko tinggi?Saya ada pasien yang alergi nya...
Anonymous
Dibalas 25 Mei 2023, 11:05
Pemeriksaan IgG food sensitivity
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alodokter, izin bertanya. Wanita muda dengan keluhan muncul jerawat dan gangguan pencernaan seperti bab cair setelah konsumsi keju atau susu. Pasien ini...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.